Kembali ke Hatimu

    Kembali ke hatimu.
Bag 1
Alma menghempaskan tubuhnya di tempat tidur kamar kost nya.Tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.Kenapa dia harus bertemu lagi dengan mereka,batinnya.Bukankah dia sudah mengubur dalam-dalam semua kenangan pahit itu,semua hal yang berkenaan dengan keluarga itu.Disaat seperti itu,ingin rasanya dia pulang ke Padang,tempat kelahirannya.Dimana dia bisa memeluk bundanya dengan sangat erat,menumpahkan segala kesedihannya saat ini.
Hari ini dia memang sedang tidak fit.Telinganya terasa sakit.Sebelumnya,telinganya terasa gatal,dan dia mulai mengorek-ngoreknya dengan cotton buds.Entah mungkin karena terlalu dalam,dia mengorek-ngorek telinganya,sehingga cotton buds nya mengenai bagian dalam telinganya,kini telinganya terasa sakit.Dan semalaman,dia tidak bisa tidur,Karena menahan rasa sakit itu.
Karena itu,hari ini dia memberanikan diri pergi ke rumah sakit sendiri.Namun tak disangka,disana dia malah bertemu dengan orang yang sebenarnya tak mau dia temui.
Setelah mengisi formulir pendaftaran,alma celingukan mencari kursi kosong di ruang tunggu.Disana ada yang kosong,pikirnya.Dia pun memilih kursi kosong di barisan belakang.Namun diantara pasien disana,ternyata ada 2 orang yang sedari tadi memperhatikannya.Sembari mengingat-ingat benarkah dia alma,orang yang pernah mereka kenal.Mereka adalah Tika dan ibunya,Nyonya Rosa.
"Maaaa,..." Tika menepuk bahu mama nya yang duduk di kursi roda. "Lihat Maaa,...itu seperti Alma"...
"Alma mana ??" Mamanya menimpali.
"Alma yang dulu pacarnya bang ibram ma..."
"Iya kah ? Mana... yang mana ka,? Mama ingin ketemu ?"
"Itu maaa...yang baju kuning di kursi paling belakang".Jawab tika sambil mengajak mama nya menoleh ke arah yang dia tunjuk.
Nyonya Rosa memperhatikan gadis yang ditunjuk anaknya,Tika.Iya,memang mirip seperti yang mereka kira.Itu memang Alma,sosok yang dulu pernah dia rendahkan dan dia hina.Gadis yang menurutnya tak pernah pantas untuk mendampingi putra nya,Ibram.
"Ayo,ka..antar mama menemuinya..."Pinta nya pada Tika.
"Iya,maaa..." Tika langsung berdiri untuk membantu mendorong kursi roda yang digunakan mama nya.Hari itu memang jadwal Nyonya Rosa untuk medical check up ke THT berkenaan dengan penyakit sinus yang dideritanya. 
"Alma.." Nyonya Rosa menepuk bahu Alma.
Alma yang sedari tadi bermain hp langsung kaget.Dia sepertinya kenal dengan suara itu.Dan lebih kaget lagi,saat dia menoleh,dia lebih mengenal lagi sosok perempuan itu.Nyonya Rosa,dan juga Tika.batinnya.
Ingin dia berlari dan berlalu dari tempat itu,sebelum akhinya Tika memegang tangannya.
"Tunggu Alma,mama ingin bicara denganmu".katanya 
"Saya rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi,saya sudah menuruti permintaan kalian untuk menjauh dari kalian.kalaupun kita sekarang bertemu,ini hanya kebetulan saja,lagi pula saya tak pernah menginginkannya".
"Saya tahu,saya dulu bersalah padamu.,pada keluargamu.Saya hanya ingin minta maap.Mohon duduk dulu.Saya hanya ingin bicara sebentar saja".kata Nyonya Rosa sedikit mengiba.
"Saya sudah mencarimu kemana-mana,dan saya belum merasa tenang jika belum minta maap padamu,tolong duduklah sebentar,nak",lanjutnya.
Ada raut buram di wajahnya nyonya Rosa,Alma tak kuasa menolak.Dia duduk sambil terus berkata,"baiklah,tapi waktu kita hanya sebentar saja..."ucapnya.
Nyonya Rosa mengangguk.Dia menarik napas panjang,tak tahu harus memulai pembicaraan darimana.
"Apa kabarmu,nak?".Pertanyaan yang sebetulnya tak perlu dia tanyakan,mengingat semua yang pernah dia lakukan pada gadis itu.
"Baik.." jawab Alma singkat.
"kamu di jakarta sedang apa ? " ,tanya nya lagi.
"Saya kuliah". Jawab Alma ketus,
"Ouwh yaaa...kamu kuliah lagi,..?? Hebat kamu,nak.." Alma tersenyum sinis,sedikit aneh mungkin dengan apa yang nyonya Rosa lakukan hari itu padanya.Bukankah dia juga yang bilang kalau perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi,nanti dia berani dan ngelunjak sama suami.Alma masih ingat dengan kata-katanya itu.
"Singkat saja nyonya,,apa yang mau nyonya bicarakan dengan saya,? Sebentar lagi perawat memanggil saya masuk ruangan".Alma sebenarnya sudah tak nyaman dengan situasi seperti itu.Ingin rasanya dia pergi dan berlalu dari tempat itu.
"Ouwh...iya,maap...saya hanya mau bilang kalau ibram sekarang sudah bercerai..."
"Ouwh..." jawab Alma datar.
"Apa kamu sudah menikah,nak ? " tanya nya lagi.
"Belum..." jawab Alma,sembari memalingkan muka nya dari hadapan nyonya Rosa.
"Dia pasti senang,jika tahu saya sekarang bertemu denganmu".
Tika yang sedari tadi mendengarkan ibu nya berbicara dengan Alma,hanya terdiam,sambil sesekali memainkan hp nya.Dia memberikan kesempatan untuk ibunya dan Alma berbicara.Semenjak perceraian bang ibram,mama nya sangat terpukul.Pernikahan yang dulu dia rancang ternyata harus gagal,dan itu bukan karena salah anaknya.Wanita yang dia agung-agungkan untuk menjadi menantunya ternyata telah berani menghinanya,merendahkannya,tepat di depan anaknya Ibram.Kejadian itu bukan sekali dua kali.Hanya saja,ibu nya tak pernah mengatakannya pada ibram,karena tak ingin pernikahan ibram harus berakhir hanya karena dia.Lagipula,dia sadar,dia dan anak-anaknya yang lain hanya menumpang di rumah menantunya,di jakarta.Baru pada saat itu,entah mungkin karena tak sengaja,atau bagaimana,menantunya Maya,menghardiknya lagi saat dia tak sengaja menjatuhkan gelas yang dia pegang.Saat itu,Nyonya Rosa memang baru pulang dari rumah sakit,akibat penyakit diabetes yang dideritanya sejak lama,saat itu dia dalam tahap pemulihan.Wajar saja kalau dia masih terlihat lemas dan menjatuhkan gelas.Maya tak tahu kalau Ibram waktu itu ada di ruang kerjanya,tepat di sebelah ruang makan.
"Ada apa lagi ini ?" Hardiknya waktu itu.
"Sudah aku bilang kan,kalau mama ini sudah tua,..tu pegang gelas saja tidak bisa.Baiknya,mama di panti jompo saja,biar ada yang ngurusin.Lagian kalau disini,mama hanya ngerepotin kita saja,bang ibram harus bolak-balik ke rumah sakit,sampai bolos kerja cuman buat jagain mama di rumah sakit".Nyonya Rosa hanya tertegun mendengarnya.Tampak Adi,anaknya yang keempat menghampirinya.
"Sudah donk ka,..jangan terus-terusan marahi mama,lagian mama kan abis pulang dari rumah sakit,mungkin dia lemas,jadi tak sengaja sampai jatuhin gelas".Adi mencoba membela ibu nya.
Tika yang datang menyusul,langsung memerintahkan mba asisten rumah tanggan untuk membersihkan pecahan kaca,dan menyuruh Adi untuk membawa mama nya ke kamar.Dia tahu bang ibram masih ada di ruang kerjanya,belum pergi ke kantor.
"Tunggu dulu,kakak belum selesai bicara."Lanjut Maya.
"Sebaiknya mama terima tawaran maya.Disana kan ada yang menjaga,ga kaya disini.Mama cuman ditemenin anak-anak mama.Itu juga ga sepenuhnya deket mama,kan.Kalau masalah biaya,mama tenang za,biar Maya yang bayar.Tinggal mama bilang za ke bang Ibram"...
Nyonya Rosa tetap diam.Perih rasanya batin nya.
"Jika mama setuju,nanti aku carikan kontrakan untuk anak-anak mama yang lain.Biayanya biar Maya juga yang bayar.Setidaknya nanti kita bisa mengurusi kehidupan kita masing-masing.Tanpa perlu mencampuri pernikahan Maya dan bang Ibram lagi..gimana,maa..?".Maya sedikit memaksa kali ini.
Di ruang sebelah,Ibram mulai merasa jengkel dengan ulah istrinya.Bukannya dia yang membujuk ibu dan adik-adiknya untuk pindah ke jakarta dan tinggal bersama.Tapi,kini kesabarannya mulai hilang.
Dia membuka pintu ruang kerjanya.
"Mama tidak akan kemana-mana.juga adik-adikku..." kata Ibram dengan nada tinggi.
Maya menoleh kaget,kok bisa Ibram belum ke kantor jam segini,pikirnya.
"Bang Ibram...maksudku bukan seperti itu..." Terbata-bata,Maya menjawab.
"Kamu berani membentak ibuku di depan adik-adikku....jangan-jangan ini bukan pertama kali...jangan-jangan kalau aku tak ada pun kamu sering lakukan itu,kan ? Tanya Ibram,masih dengan suara tinggi.
"Iyaaa,Bang...kak Maya sering marah-marah pada mama.."Adi ikut menimpali.Dia seolah punya kekuatan besar untuk ikut membela ibunya.
"Benarkah itu,..?? Ibram kembali bertanya pada Maya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu,mamanya saja yang susah diatur".
"Tapi dia mamaku.."Ibram mulai jengkel.
"Aku hanya menawarkan mereka tempat tinggal,..aku ga salah kan Bang...lagian selama ini mama dan adik-adikmu terlalu mencampuri kehidupan pernikahan kita..".
"Tapi kamu yang dulu membujukmu untuk tinggal bersama kita.."
"Iyaaa...tapi mereka juga harus sadar donk kalau mereka tinggal bersama siapa..."
"Maksudmu apa ??". Ibram mulai hilang kesabarannya.
"Seharusnya mereka bersyukur,aku yang menyekolahkan mereka,membiayai hidup mereka bahkan menampung mereka di rumah ini..." Maya mulai nyerocos tak karuan.
Entah berapa lama ,adegan pertengkaran itu terjadi.Yang jelas,saat Maya meminta Ibram untuk memilih,...antara ibu dan adik-adiknya,atau Maya dan 2 anaknya.Ibram lebih memilih ibunya dan adik-adiknya.Menurutnya,Ibu dan adik-adiknya lebih membutuhkan dirinya.Sedangkan 2:anaknya,saat ini memang membutuhkan pegasuhan Maya,sebagai ibunya.Karena anak-anaknya masih kecil-kecil.Dia berharap,suatu hari kelak saat anak-anaknya dewasa,mereka akan mencari dirinya.
Malam itu,mereka semua pergi dari rumah itu.
¤¤¤¤¤¤
Tika tersadar dari lamunan,saat perawat jaga menyebut no antrian ibunya.Tika langsung mengajak ibunya masuk ke ruang periksa,yang saat itu masih bicara dengan Alma.
"Ayo maaa...itu no antrean kita,206.." katanya pada nyonya Rosa,mamanya.
"Ouwh iyaaa..sebentar ka..."
Nyonya Rosa meneruskan pembicaraannya dengan Alma.
"Nak...boleh minta nomor teleponmu ? Ibram pasti senang kalau tahu kamu ada di jakarta juga.."
"Mungkin tidak nyonya,saya tidak ingin berurusan dengan kalian lagi..." Alma beranjak dari tempat duduknya,setengah berlari dia meninggalkan tempat itu.Meninggalkan Tika dan Nyonya Rosa yang tertegun menatapnya.


Bag 2
Ibram berada di ruang kantornya,saat hp nya berbunyi."mama..." batinnya saat melihat panggilan telepon.
"Assalamualaikum,maaa...ada apa ?" Tanya Ibram pada mamanya.Terdengar suara di seberang.
"Ibram,kau pasti tak percaya dengan apa yang mama lihat di rumah sakit tadi..."kata nyonya Rosa sedikit berapi-api.
"Memangnya mama lihat apa ? Tanya Ibram lagi.Tangannya terbagi 2 antara memegang hp dan tuts keyboard laptop.
"Mama lihat Alma tadi,pacar kau dulu waktu di padang...kau masih ingat kan,nak ?" Nyonya Rosa menerka-nerka apa yang sekarang Ibram pikirkan.
"Yaaa...aku ingat maa..." Ibram menjawab,singkat saja.
"Kenapa jawaban kau datar saja,nak ? Kau tak senang kah ? Bukankah kau masih cinta dia ?" Tanya nya pada Ibram,dia tak habis pikir apa yang sedang dipikirkan anaknya itu,dia tahu anaknya masih sering memikirkan gadis itu,tapi kenapa sekarang dia malah seperti tak peduli.Atau mungkin dia menutupi perasaannya di hadapannya.
"Aku senang maa..tapi hubungan kami sudah lama berakhir,kita sudah punya kehidupan masing-masing...".
"Tapi kau kan duda,nak...dia juga belum menikah sampai saat ini.." lanjut nyonya Rosa.Tanpa sepengetahuan ibunya,Ibram tersenyum.Dia senang mendengar perkataan ibunya itu.Jika Alma belum menikah,mungkin dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan cinta Alma lagi.Masih bisa mengajaknya pulang kembali ke hatinya...Tapi kemudian dia halau perasaan itu,dia sadar dia tak pantas mengharapkannya lagi.
"Maaa...aku tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan siapa pun saat ini.Lagipula Alma tak mungkin menerima aku lagi.Atas apa yang pernah aku lakukan padanya dulu.." Dia mencoba mengingkari apa yang kini sedang bergejolak di dadanya.Dia menarik napas panjang...ingin rasanya dia bertemu Alma,mencurahkan semua yang dia alami selama ini.Segala penat ini...tapi dia sadar,apalah artinya dia bagi Alma sekarang.Dia tahu,tak mudah untuk memaapkan orang yang pernah menyakiti,apalagi sampai mengkhianati.Dia sadar diri.
"Nak..." suara mamanya membuyarkan lamunannya.
"Mama masih berharap kalian berjodoh,..mama punya nomor teleponnya..mama bisa membuat pertemuan untuk kalian berdua.."
"Jangan maa..." Ibram langsung menimpali.Dia tahu hal bodoh apa yang akan ibunya lakukan.Seperti yang pernah dia lakukan juga sewaktu di padang.Yang membuat hubungannya dengan Alma harus berakhir tragis.
"Mama tahu apa yang akan mama lakukan,nak..jangan khawatir,semuanya akan baik-baik saja...ini cara mama untuk menebus kesalahan mama pada kalian...assalamualaikum"....tuuutttt..tuuuuttt...koneksi terputus.Nyonya Alma menutup telepon,membiarkan Ibram terdiam dengan pikirannya sendiri.
******
Nyonya Rosa mulai memencet nomor telepon pada hp nya.Dia mulai melakukan panggilan.Tak ada jawaban.Dia mencoba melakukan panggilan lagi.Tetap tak ada jawaban lagi."benar ga sih ini nomor nya.."batinnya.Tapi Tika tak mungkin salah.Setelah keluar dari ruang periksa rumah sakit itu,dia mendapati Alma sudah tidak ada di tempat itu.Tapi dia tak habis akal,dia menyuruh Tika,anaknya untuk meminta nomor telepon dan alamat Alma di tempat pendaftaran periksa THT.Sebelumnya,dia menyodorkan tas hitam padanya."
Nanti kalau disana tanya-tanya,bilang saja mau mengembalikan tas ini yang ketinggalan di ruang tunggu gitu.." Tika mengangguk paham.
Setelah terlibat argumen panjang dengan petugas rumah sakit.Akhirnya,mereka mendapatkan nomor hp dan alamat Alma.
"Tapi kenapa Alma tak juga mengangkat teleponnya yaaa..".Nyonya Rosa bertanya-tanya dalam hati.
"Apa mungkin dia sedang sibuk ?? Akh,aku coba kirim message za.." pikirnya.
"Alma..ini nyonya Rosa..mama nya Ibram..bisa angkat teleponnya..?" Begitu isi message nya.
Tapi tetap tak ada balasan.Begitupun dengan panggilan whatsapp nya.Tak ada jawaban sama sekali.
Di seberang sana,tampak Alma sedang memegang hp nya...memperhatikan setiap panggilan masuk dan message yang datang padanya.Tanpa berkata apa-apa lagi,dia langsung memblokir nomor itu.

*****
Dia sedang menjemur pakaian di depan kamar kostnya,saat dia mendengar ada yang memberi salam padanya.Tampak nyonya Rosa sudah ada di hadapannya bersama Tika.Alma tak sempat mengelak.Akhirnya,mereka Alma ajak masuk ke kamar kostnya.
Alma tak percaya apa yang dilihatnya,nyonya Alma dan Tika membawa makanan yang banyak untuknya.Sesuatu yang dulu tak pernah dilakukannya.Yang ada,adalah dia yang selalu membawa masakan ibunya untuknya dan keluarga,walaupun akhirnya,masakan ibunya tak pernah mereka cicipi.
Semenjak itu,mereka sering mengunjungi Alma.Tepat di hari minggu,biasanya mereka datang.Disaat Alma off kerja dari tempatnya magang,di sebuah dealer motor di Jakarta.Sedangkan pada akhir pekan,biasanya Alma kuliah,namun karena Alma mengambil kelas sore,jadi mereka biasanya datang di hari minggu pagi.Namun bila mereka memintanya untuk berkunjung ke rumah mereka,dia langsung menolak.Apalagi jika mereka menyebut-nyebut nama Ibram,Alma langsung akan mengalihkan pembicaraan.Nyonya Rosa tahu,untuk menaklukkan hati Alma tidak bisa dengan cara cepat,perlu proses yang mungkin akan lama,untuk memulihkan kepercayaannya.
¤¤¤¤¤¤
Tapi hari minggu ini nyonya Rosa tidak datang.Ada rasa khawatir di benak Alma,jangan-jangan penyakit diabetesnya kambuh lagi,pikirnya.Kalaupun dia tak datang ke kost nya,biasanya dia akan menelponnya,walau hanya sekedar untuk menanyakan kabarnya saja.
Sebenarnya,nyonya Rosa orang yang baik.Tipe seorang ibu yang rela melakukan apa saja untuk kebaikan anak-anaknya.Seorang ibu yang lembut tapi juga tegas.Tapi dia masih terkungkung tradisi,seorang yang berpegang teguh pada tradisi dan adat padang tradisional.Dia mempercayai bahwa ada perbedaan yang sangat jelas antara kodrat wanita dan laki-laki.Seorang perempuan tak harus berpendidikan tinggi,tak harus bekerja,dan menurutnya,kedudukan anak laki-laki dalam keluarga lebih tinggi dibandingkan anak perempuan.Berbeda halnya dengan Alma,yang tumbuh dalam keluarga yang sebagian besar anggota keluarganya adalah perempuan.Prinsip ayahnya adalah,laki-laki dan perempuan adalah sama.Pendidikan mereka pun haruslah sama.Ayahnya bersikeras,kalau anak-anaknya haruslah berpendidikan tinggi,agar tidak dibohongi lelaki,agar tidak dilecehkan dan dihina lelaki.Bukan untuk menyalahi kodrat,tapi untuk mengimbangi kaum lelaki.Walaupun nantinya dia harus tinggal di rumah,setidaknya dia tahu bagaimana mengajari anak-anaknya.Dan bila suami sudah tidak produktif lagi,dia setidaknya bisa mencari nafkah sendiri untuk membantu ekonomi keluarga.Begitu ayahnya berpikir waktu itu.Sehingga dia rela banting tulang mencari nafkah untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.Dan Alma pun sadar,dia bukan dari keluarga berada.Ayahnya hanya seorang pedagang keliling.Karena itu,sedari kecil dia sudah terbiasa bekerja,dari mulai membantu ayahnya berjualan hingga bekerja paruh waktu di counter hp.Semuanya dia lakukan untuk membantu ekonomi keluarganya dan juga mengejar cita-citanya untuk kuliah.Berbeda halnya dengan pandangan nyonya Rosa,yang berpikiran kalau perempuan cukuplah hanya lulusan SLTA.Kalaupun dia berkeinginan untuk kuliah,dia harus menunggu saudara-saudara lelakinya lulus kuliah dulu dan mapan.Itu pun dengan pertimbangan,jika mereka mau membiayainya.Pemikiran yang jauh bertolak belakang dengan apa yang selama ini ada di benak Alma.
Dia ingat saat Ibram mengatakan pada ibunya itu kalau saat itu Alma ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah S1 nya dan mempersiapkan diri untuk bisa mendapatkan beasiswa pendidikan S2,maka sontak saja nyonya Rosa tak setuju.Sambil membelalakkan matanya,dia berkata pada putranya itu.
"Jika kau turutkan,maka tak mustahil dia akan menginjak-injak kepalamu,Ibram".sebuah perkataan yang amat pedih untuk Alma saat itu.
Tapi hari ini,sosok yang tak bisa hilang dari ingatannya itu tak kunjung datang.Ada rasa rindu juga di hatinya.Sosok pengganti ibunya selama di perantauan ini.Lamunannya seketika buyar,saat hp nya berbunyi."ada panggilan masuk.." batinnya.
"Assalamualaikum,nak Alma...lagi dimana sekarang ??"
"Di rumah bu.." jawab Alma,setelah tahu bahwa yang menelepon adalah nyonya Rosa.
"Nak..mama tak bisa kesitu...sudah 2hari mama di rumah sakit..."
"Owhh...: Alma bingung mau menjawab apa.
"Kalau kau tak sibuk,mampir kesini yaaa...Nak,.biar Ibram atau Adi yang jemput kau kesana".
"Tak usah bu.." jawab Alma sekenanya.
"Tak usah apa ?" Nyonya Alma balik bertanya.
"Ehhh,maksudnya tak usah dijemput bu.."
"Tapi kau mau kesini kan,nak ??" Nyonya Alma setengah berharap.
"Kalau ada waktu yaaa,bu...tapi saya tak janji...kalau tak ada jadwal kuliah juga.."jawab Alma
"Cepat kesini yaaa..sebelum mama dibolehin pulang ke rumah". Alma mengangguk,tapi karena ini via telepon,nyonya Rosa tak bisa melihat apa yang dilakukan Alma.
"Hallo..." suara nyonya Rosa terdengar lagi .
"Ouwh..iyaa bu.."


Bag 3
Alma menghela napas panjang sebelum dia melangkahkan kakinya ke ruang yang ditunggu."Ruang Anggrek 4 no 57"..Batinnya. "ini ruangannya".Sore itu,setelah dia pulang kerja,dia sempatkan diri untuk membesuk nyonya Alma di rumah sakit.
Setelah mengetuk pintu,dia melangkah masuk ruang rawat inap rumah sakit.Dan benarlah apa yang selama ini dia takutkan.Disana ada Ibram,juga Vira adik kedua Ibram dan nyonya Rosa yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Alma..." Ibram setengah tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.Antara terkejut juga bahagia.Pertemuan yang tak disangka-sangka baginya.Tapi,tidak dengan nyonya Rosa,ibunya.Diam-diam,dia yang merencanakan pertemuan itu
Alma bergegas mendekati ranjang nyonya Rosa,tanpa sedikitpun menghiraukan Ibram yang masih terdiam mematung.Alma tahu Ibram memperhatikannya,tapi dia tak menoleh sedikitpun padanya.
"Kak Alma,apa kabar ?"..Vira langsung memeluknya erat sekali.Diantara saudara-saudara Ibram yang lain,hanya Vira yang bersikap baik padanya.Walaupun usianya dibawah dirinya,tapi hanya dia yang peduli padanya.Begitu yang Alma yakini sampai saat ini.
"Baik,de...kamu sendiri bagaimana ?" Jawab Alma dengan tersenyum.
"Baik juga kak.. mama sering cerita tentang kakak,tapi baru kali ini kita bertemu yaaa.."
"Iyaaa...kamu kan sekarang sibuk menyusun skripsi yaaa ?"
"Iya kak...darimana kakak tahu,dari mama yaaa ?
Alma mengangguk.
"Ngobrolnya nanti dilanjut lag,sekarang suruh Alma duduk dulu,vira..!!!" Nyonya Rosa memotong pembicaraan.
"Ouwh iya sampai lupa,..ayo kak,sini duduk dekat mama.." Vira menawarkan kursi yang sedang dia duduki.Giliran dia yang berdiri.
¤¤¤¤
Sepanjang hari itu,Alma menghabiskan waktu di rumah sakit.Alma,Vira dan nyonya Rosa bercengkrama bersama.Terkadang mereka tertawa.Tak ada yang tahu bahwa diantara mereka pernah ada jurang yang teramat dalam.Hanya Ibram yang duduk sendiri di pojok kamar rumah sakit.Sesekali dia tersenyum sendiri,melihat tingkah Alma."Masih tetap seperti dulu",batinnya.Selama Pertemuan itu,hanya dia yang tak diajak bicara oleh Alma,bukan hanya bicara,untuk sekedar menoleh pun Alma tidak melakukannya.
Bukan apa-apa,Alma hanya tak mau perasaan yang dulu datang kembali.Karena bila itu terjadi,dirinya tak bisa menghalaunya kembali.Berbeda dengan pemikiran Ibram.Dia menyadari Alma bersikap seperti itu.Karena memang kesalahan dulu tak akan bisa termaapkan.Bagaimana seorang lelaki yang dia agung-agungkan lebih memilih wanita lain karena dorongan ibunya,hanya karena keluarga Alma tak sanggup memberikan hantaran yang diminta ibunya.
Dalam adat padang,seorang perempuan lah yang memberikan hantaran,bukan si lelaki.Semakin tinggi dan derajat sang mempelai pria,maka semakin besar dan banyaklah hantaran yang harus dibawa si mempelai perempuan.Tapi itu tradisi tempo dulu.Sekarang banyak orang padang yang tak memakai tradisi itu,tapi tidak dengan ibunya.Yang teguh memegang adat dan tradisi.
¤¤¤¤
Alma sesekali mengibas-ngibaskan rambut panjangnya dengan tangannya.Sesekali matanya mengerling.Mencari sosok Ibram,walau dengan posisi wajah tetap menghadap ke depan.Tapi dia masih bisa menangkap bayangan Ibram.Dia tahu,Ibram masih memperhatikannya...sesekali dia menunduk,atau memalingkan muka ke arah jendela,tapi kemudian tatapannya kembali padanya.
"5 tahun telah mengubah seorang Ibram..",batin Alma.Badannya sekarang lebih berisi,kelihatan perutnya sedikit membuncit.Berbeda dengan fisiknya dulu,yang cenderung kurus dan berkulit gelap.Tapi senyumnya masih seperti dulu..sungguh manis..itu yang dia suka dari Ibram..Mungkin dia boleh lupa dengan perubahan fisik Ibram,tapi tidak dengan senyumnya....Ahhh...meleleh hatinya bila mengingat senyumnya itu.Kadang dia sering berharap,suatu saat Ibram akan pulang padanya...mengobati luka hatinya kembali.Tapi tidak untuk hari ini,dia tak pernah berpikir sedikitpun untuk mengulang kembali.Cukuplah mereka seperti itu..menjaga jarak agar tidak selalu menyakiti.
"Tapi tidak...kenapa aku harus mengingat semua itu...Tak baik jika aku harus terus memikirkan dia...apalagi tentang perubahan fisiknya.Kami bukan siapa-siapa lagi...Mau dia gendut,mau dia kurus..atau rambutnya beruban sekalipun,itu bukan urusanku...",batin Alma mulai berontak.
¤¤¤¤
Waktu menunjukkan pukul 5.30 sore saat dia melirik jam tangannya.Sudah terlalu sore,pikirnya.Apalagi jam besuk sebentar lagi berakhir.Alma akhirnya pamit.Sebelumnya,Ibram sempat menawarkan untuk mengantarnya pulang,tapi Alma menolak.
"De,..abang antar pulang yaaaa..??" Tanya Ibram
"Tak usah bang,saya pulang sendiri saja"...Alma buru-buru menjawab.
"Iya nak,biar Ibram antar pulang saja,lagian ni sudah mau malam..".Nyonya Alma menimpali.
"Tidak bu,terima kasih..saya sudah biasa kemana-mana sendiri.Lain kali za." Alma masih bersikeras.
Ibram tak bisa terus memaksa.Dia tahu sifat Alma.Jika dia menolak,berarti dia memang tak mau.Alma memang tak mau dekat-dekat dengannya.
"De...Abang cuman mau mengantarkan pulang saja,tidak lebih..." Ibram terdiam sebentar,lalu melanjutkan lagi.
"Jika memang abang tak bisa dianggap sebagai kawan,biarlah abang menganggapmu sebagai adik abang sendiri.."
Jleb..kenapa Ibram berkata seperti itu,pikir Alma.Tapi pernyataan Ibram kali itu meluluhkan pendiriannya.Alma tahu Ibram sudah bisa membaca jalan pikirannya.Alma tahu,Ibram sudah tahu bahwa sebenarnya dia hanya ingin menghindar dari dirinya.Kali ini,Alma tak kuasa menolak.Malam itu,dia pulang diantar Ibram.
Di sepanjang perjalanan,mereka tak sedikitpun bicara.Benar-benar perjalanan yang sunyi.Tak ada pembicaraan sama sekali.Sampai akhirnya,Ibram memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
"De...katanya kamu kuliah lagi..S2;kah ??
"Ya.. ." Jawab Alma singkat.
"Beasiswa kah ??".
"Yaa.." jawabnya lagi.
Kemudian mereka terdiam lagi.Sunyi lagi..
"Disini kamu tinggal dengan siapa ??" Ibram memecah kesunyian lagi.
"Sendiri.." Alma menjawab datar.
"Ouwh iya,bagaimana kabar ibu bapak ? Adik-adiikmu ?? Sehat-sehatkah ?" Tanyanya lagi.
"Mereka semua sehat.."
Ibram sedikit memacu kendaraannya,ke tempat kost nya Alma.Dia tak akan melanjutkan pembicaraannya lagi.Dia tahu,Alma sedang tak ingin dia ajak bicara.Dia tak akan bertanya-tanya lagi.Lagipula dia sudah tahu alamat tempat kost nya Alma.Ibunya sudah memberitahunya dengan sangat mendetail.
Ibram menghentikan kendaraannya,saat tiba di depan kost nya Alma.Tanpa bicara panjang lebar,Alma hanya mengucapkan terima kasih dan bersiap untuk membuka pintu mobil,sampai akhirnya Ibram memegang tangannya.
"Tunggu de..." katanya pada Alma.
"Lepasin tangan Alma,bang.."suara Alma mulai meninggi.
"Ouwh iyaaa..maap..." Ibram melepaskan pegangan tangannya.
"Abang boleh bertemu lagi denganmu ya de.." sebelum Alma sempat menjawab,Ibram langsung melanjutkan.
"Abang ga ada niat apa-apa..cuman ingin menganggapmu sebagai adik abang saja..tak lebih..boleh kan ?? Alma hanya mengangguk.
"Ini nomor hp abang,." Ibram langsung mengambil hp dari saku jaketnya.Lalu tambahnya lagi,
"Abang miss call yaa...nanti adek save nomornya yaaa.." Alma mengangguk lagi.
"Itu nomor abang.." katanya lagi setelah mendengar hp Alma berdering.Itu tandanya nomornya sudah masuk ke hp Alma,pikirnya.
"Sudah yaaa..saya pergi...terima kasih.." kata Alma sambil tangannya membuka pintu mobil dan berlalu meninggalkan Ibram.
Dari kaca mobil,Ibram memperhatikan Alma..."masih seperti dulu,pikirnya..."Memang tak banyak berubah,perawakannya yang tinggi dan cenderung kurus,berkulit putih dengan berambut panjang...Yang berbeda hanyalah saat itu dia mengenakan blazer hitam pas badan dipadukan dengan jeans warna navy.Sedangkan dulu,Alma hanya suka mengenakan jeans dan tshirt pas badan saja,dia hanya mengenakan dress jika ada acara-acara tertentu saja.
Begitu mendetailnya Ibram tahu tentang Alma.Bagaimana tidak...dia mengenalnya saat dia masih duduk di bangku SMA,sedangkan Alma duduk di bangku SMP.Hubungan mereka berjalan kurang lebih 10 tahun lamanya.Bahkan,saat dia kuliah di jakarta pun ,hubungan mereka masih berlanjut.Walaupun mereka menjalani LDR,tapi tak masalah bagi mereka,karena komunikasi mereka tak pernah terputus.
Hingga akhirnya,dia bekerja magang di sebuah perusahaan multimedia milik ayahnya Maya.Karena Ayahnya Maya juga orang padang,jadi hubungan mereka pun tidak sebatas karyawan dan atasan.Hubungan mereka berlanjut dengan hubungan pertemanan antara keluarga Maya dan keluarganya sendiri.Berlandaskan satu adat,satu tradisi.Begitupun dengan Maya sendiri,diam-diam dalam hatinya menyimpan perasaan pada Ibram.Walaupun dia sendiri tahu kalau Ibram sudah punya tambatan hati,yaitu Alma.
Seiringnya waktu,..hubungan Ibram dan Alma semakin dekat,walaupun jarak memisahkan,tapi itu tidak melunturkan kepercayaan yang mereka bangun berdua.Di lain pihak,Maya mulai mendekatkan diri pada ibunya dan adik-adik Ibram.Usahanya tidak sia-sia.Akhirnya dia bisa menaklukkan hati ibunya,yang sedari awal memang tak begitu menyukai Alma.Menurut ibunya,Maya lah yang pantas mendampingi putranya,bukan Alma.Mereka pun terlibat konspirasi untuk menghancurkan hubungan Ibram dengan Alma.
Hingga akhirnya,disaat Ibram mengutarakan niatnya untuk melamar Alma di hadapan ibunya,nyonya Rosa.Tak disangka,permintaannya dikabulkan.Sungguh aneh memang,ibunya yang biasanya menentang keputusannya untuk menikahi Alma,tiba-tiba berubah menjadi baik.Tak ada kecurigaan sedikitpun...sampai akhirnya,tiba waktu lamaran.Semua keluarga dan tamu undangan telah hadir...di tengah acara lamaran,tiba-tiba nyonya Rosa mengumumkan bahwa dia menginginkan hantaran dari keluarga perempuan yang besar dengan harga fantastis.
Sesuatu yang diluar dugaan,keluarga Alma tak menyangka akan seperti itu.Tapi karena mereka tak mau dipermalukan lebih jauh lagi,di hadapan tamu undangan.Mereka pun menyanggupinya,dan prosesi lamaran pun dilanjutkan hinggan acara pemberian cincin sebagai simbol bahwa mereka telah resmi bertunangan.
2 bulan berlalu,dan keluarga Alma menyadari jika mereka tidak bisa menyanggupi permintaan keluarga Ibram untuk memberikan hantaran yang diinginkan oleh nyonya Rosa,mereka pun akhirnya sepakat untuk meminta Alma untuk berunding lagi dengan keluarga Alma,harap-harap nominalnya bisa diturunkan.Tapi permintaan Alma gagal,mereka tetap bersikukuh dengan keputusannya.Hingga akhirnya,dengan berat hati mereka meminta Alma untuk menyudahi hubungannya dengan Ibram.
Ibram ingat betul,saat Alma waktu itu datang padanya dengan menangis sesenggukan.Mengembalikan cincin pertunangan kami,dan memintanya untuk memilih dia atau ibunya.Dan Ibram sekarang menyesali kenapa dia waktu itu hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Berdiam mematung melihat orang yang paling dicintainya pergi berlalu dari hadapannya.
Sekarang dia menyadari,betapa Alma sangat kecewa padanya.Mengapa saat Alma  butuh orang untuk mendukungnya,dirinya  malah berbelok arah dari nya...Dan bagaimana mungkin Alma tidak akan terpukul,setelah tahu bahwa beberapa bulan setelah mereka putus,Ibram malah memutuskan untuk menikahi Maya...

Bag 4
Dengan terburu-buru,Ibram mrmbereskan berkas-berkas yang ada di meja kantornya.Sesekali dia menengok jam tangannya."masih jam 02.30.."pikirnya.Tapi dia mesti buru-buru,kalau tidak,Alma keburu pulang kerja dan pasti langsung pulang.Karena dia tak pernah mau menunggu lama.
Sebenarnya sore itu,Ibram mengajaknya makan,setelah pulang kerja.Tapi dia khawatir,Alma lupa dengan janjinya.Makanya,dia ijin pulang lebih awal pada atasannya yang tak lain masih temannya.Sebenarnya kantor tempat dia bekerja tidak begitu besar,hanya cukup untuk 8 orang saja.Yang semuanya karyawan dan 1 orang atasan.Masih dalam bidang multimedia.Berbeda dengan perusahaan tempatnya kerja dulu,yang merupakan perusahaan besar yang dikelola mantan mertuanya dulu.Setelah dia dan Maya bercerai,dia pun memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu.Setelah melamar kesana sini,akhirnya dia bertemu dengan salah satu teman kuliahnya dulu yang sekarang mempunyai kantor sendiri.
Sebelum Ibram sampai ke tempat kerja Alma,Alma sudah menelepon kalau dia akan menunggu di tempat yang telah dijanjikan.Ibram disuruh menyusulnya kesana.Alasannya dia tak mau lama-lama menunggu."Sudah aku duga.."batin Ibram.Padahal dia hanya terlambat 5 menit saja.Tapi "ya sudahlah..aku susul saja dia kesana",pikir Ibram.
¤¤¤¤¤
Di tempat yang dijanjikan,tampak Alma sudah ada disana.Dia sudah memesan minuman sendiri.Sore itu,mereka menghabiskan waktu bersama.Lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya.Disini pula,dia dapat memandang wajah Alma dengan jarak dekat,walau sesekali Alma memberi sinyal untuk berhenti terus menatap wajahnya.Ibram tersenyum simpul.
Kedekatan mereka saat ini hanyalah sebatas hubungan kakak-adik,begitu yang diyakini Alma.Tapi tidak dengan Ibram,kedekatan ini bisa diartikan sebuah sinyal untuk mendekatkan dirinya lagi pada sosok Alma.Sedikit demi sedikit,dia mencari celah dan kesempatan untuk bisa ada di hati Alma lagi.Dia mengibaratkan jika dirinya adalah seekor merpati yang selama ini tersesat dari sarangnya.Terpisah dari pasangannya.Dan selalu merindukan untuk kembali pulang,ke tempat asalnya....tepat di sisi Alma...kembali bernaung di hatinya...Walaupun pasangannya tak mengenali dirinya lagi,tapi dia berkeyakinan bahwa suatu saat pasangannya akan mengenali dan menerima dirinya lagi.Begitu selalu yang menjadi keyakinan Ibram.
"Bang...Abang..Abang sedang melamun yaaaa..." Kata Alma,membuyarkan lamunan Ibram.
"Ouwhh...maap de,..ada yang sedang abang pikirkan saat ini",jawab Ibram.
"Emang apa yang sedang Abang pikirkan ?",lanjut Alma setengah penasaran.
"Abang sedang berpikr,bagaimana kalau nanti pas ade libur semester,kita pulang ke padang..?"
""Maunya Alma juga gitu,bang...tapi bagaimana dengan pekerjaan Alma disini.Liburnya cuman pas weekend za...",jawab Alma.
"Tapi bisa minta cuti kan,sehar-dua hari misalnya..."lanjut Ibram.
"Bisa sie bang...tapi kenapa abang mau ke padang juga ? Kan keluarga abang semuanya sekarang tinggal di jakarta...",Alma menimpali.
"Mau ketemu sama ayah-bunda,dek,Abang mau minta maap.."kata Ibram lagi.
"Via telepon za bang..tak perlu jauh-jauh ke Padang..lagipula mereka sudah melupakan semuanya..tak usah terlalu dipikirkan,bang". Lanjut Alma,mencoba menenangkan Ibram.
"Tak bisa dek,..abang harus bertemu langsung.".Ibram memasang muka serius.
"Ya sudahhh..terserah abang saja..." jawab Alma akhirnya.

¤¤¤¤¤
Jam 7 malam,Ibram mengantarkan Alma pulang.Di perjalanan,tak henti-hentinya dia menggoda Alma..dengan guyonannya...Alma sampai tertawa cekikikan mendengarnya.Sesekali,Ibram menoleh ke arah Alma...tersenyum simpul melihat Alma asyik tertawa sendiri..
Setelah tawanya reda,Ibram memberanikan diri untuk bertanya.
"Dek...apa adek sudah ada planning mau menikah umur berapa ?" Tanyanya pada Alma.
"Belum...memangnya kenapa bang..Alma sudah kelihatan tua yaaaa..." jawab Alma sedikit cemberut.
"Bukan begitu,dek...biasanya tiap perempuan punya planning sendiri-sendiri..kapan mereka mulai siap untuk menikah.."
"Ouwhhh..."Alma mengangguk,sembari tak mengerti apa yang sebenarnya Ibram tanyakan.
"Kalau adek gimana,? Planning nya kapan ?" Tanya Ibram lagi.
"Nanti za bang,kalau Alma sudah punya calon yang tepat.." jawab Alms,tanpa curiga sedikitpun.
"Kalau adek sudah siap,kasih tau abang yaaa.." kata Ibram dengan mimik muka serius.
"Maksud abang gimana,?" Alma sedikit mengernyitkan dahi,tak mrngerti dengan jalan pikiran Ibram.
"Maksud Abang...yaaa,kalau nanti adek sudah siap...nanti abang ajak mama dan semua adik-adik abang untuk melamar kamu lagi,dek...." Mata Ibram masih terus menatap ke jalan raya...Mereka masih di jalan.Jarak antara tempat mereka nongkrong tadi dengan kost-an Alma lumayan jauh.
Giliran Alma sekarang yang terlihat kebingungan.Sesaat sunyi...dia benar-benar terkejut.Tak menyangka,Ibram akan mengatakan hal itu.Ibram seolah tahu apa yang sedang dialami Alma.Kegalauan yang amat sangat berat bagi seorang Alma.Maka dari itu,Ibram membiarkan sejenak untuk berpikir.
"Tapi,bang...ayah ibu Alma tak akan pernah sanggup memberikan hantaran yang keluarga abang inginkan...Abang juga tahu kan mengenai itu..." Alma mulai membuka suara.
"Mama sudah bilang ke abang,jika adek mau menerima abang kembali..mama tidak akan meminta hantaran...dek,.."
Ibram menghela napas sejenak..kemudian melanjutkan,
"Walaupun mungkin berat untuk adek menerima kembali abang,apalagi dengan status abang sekarang,..yang pernah menikah..dan punya 2 orang anak..." Ibram mulai terbata-bata.
"Alma tak pernah mempersoalkan itu,bang...cuman Alma butuh waktu...maap sebelumnya.." lanjut Alma kemudian.
Ada banyak hal yang harus Alma pikirkan..jangan sampai kejadian dulu terulang kembali,pikir Alma..sudah cukup dia dan keluarganya menanggung sakit dan malu...Kalaupun sekarang nyonya Rosa sudah mulai menerimanya,tapi dia jangan tetlalu senang dulu..ada banyak kemungkinan yang masih akan terjadi...pikir Alma lagi.
¤¤¤¤¤
Malam itu,setelah Ibram mengantarnya pulang..Alma terduduk sendiri di sudut tempat tidur kost-nya.Ada kegalauan yang besar di dadanya...Bukan...bukan karena dia tak meyakini ketulusan Ibram..Jujur,dia menantikan saat-saat ini,dimana Ibram menyatakan perasaannya lagi dan kemudian melamarnya..lagi...tapi bagaimana dengan keluarganya ? Pikirnya..apa mereka akan sudi menerima Ibram kembali.Walaupun ayahnya sempat berkata untuk menyerahkan sepenuhnya kepadanya mengenai sebuah hubungan dan pernikahan...Tapi,ini tentang Ibram..bukan sosok yang baru..Ibram yang menurut mereka tak pernah punya nyali untuk mempertahankan sebuah hubungan yang berlangsung sampai sepuluh tahun.Ibram yang lebih memilih ibunya sendiri..bukan Alma yang selama ini selalu mendukung dan menemaninya bahkan disaat Ibram terpuruk dan belum menjadi siapa-siapa.
"Yaaa...mungkin saya harus memberinya kesempatan sekali lagi".Pikir Alma akhirnya..
Dia bisa saja masih menyimpan dendam padanya..masih menyimpan luka yang sangat dalam terhadapnya..tapi dia tak bisa memungkiri,selama 5 tahun ini,dia tak bisa menghapus bayangan Ibram dari matanya..tak bisa menggantikannya dengan sosok yang lain...Tak bisa..Tak akan pernah bisa...jerit Alma.
Mungkin ini saatnya untuk Alma memberi ruang pada Ibram untuk kembali ke hati nya..kembali pulang..pada sisinya...
"Yaaaa..ini memang waktunya.."pikir Alma.
Di sepanjang malam itu,Alma tersenyum di tidurnya...bermimpi tentang dia dan Ibram yang duduk berdampingan di depan penghulu....


_selesai_


Cerita ini bisa dilihat juga di







     

Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433