Laut Kita Bersih, Laut Kita Kaya




Selama Pandemi covid 19 menyerang Indonesia dan dunia, selama itu pula segala aktivitas menjadi lumpuh total. Baik itu dari segi perekonomian, pariwisata, perdagangan, dan semacamnya. Namun itu bisa sedikit membuat bumi kita rehat sejenak dari segala macam polusi. Setidaknya langit akan terlihat sedikit biru dan cerah, tanpa adanya polusi asap dari kendaraan dan aktivitas industri, udara menjadi bersih dan laut juga  akan sedikit tenang, karena tidak adanya aktivitas kelautan yang biasanya terjadi setiap hari, yang bukan   mustahil ikut serta dalam pencemaran air laut dan ekosistem di dalamnya.
Ini bukan hanya bualan semata, sepanjang Indonesia menerapkan PSBB saja, kita bisa melihat langit Jakarta begitu bersih, jauh dari kesan kotor dan bising, yang biasanya kita rasakan setiap hari. Juga di sepanjang pantai dan pelabuhan, yang biasanya bising oleh suara-suara perahu motor dan kapal-kapal pengangkut barang kini mulai sedikit tenang. Contohnya saja di Raja Ampat, selama PSBB ini saja, ikan-ikan di perairan sana mulai bertambah banyak, belum lagi jika kita berada di pelabuhan, kita akan melihat ikan-ikan hiu berenang. Apalagi dengan ditutupnya semua tempat-tempat wisata, berpengaruh juga pada wisata kelautan yang biasanya menjadi penyumbang terbesar sampah laut ( marine debris ).  
Seperti kita ketahui sampah laut (marine debris) ini menjadi masalah utama dalam pencemaran laut. Sampah laut ini bisa berupa plastik, kaleng minuman, dan botol-botol kaca yang sering kita lihat mengambang di laut. Memang sedikit menjengkelkan  jika kita sedang menikmati pemandangan laut dari atas perahu, lalu yang nampak hanyalah sampah-sampah tersebut mengambang di permukaan air laut, menutupi keindahan pemandangan dasar laut. Atau disaat kita duduk-duduk di sisi pantai, menunggu sunrise dan sunset tiba, namun ternyata disekitar kita duduk terdapat banyak sampah yang teronggok menggunung, atau tersebar di bibir pantai. Sangat menjengkelkan bukan ?
Memang tanpa kita sadari, saat kita membuang sampah di pantai/ laut, kita akan beralasan bahwa disana tidak disediakan tempat sampah lah, atau lokasi tempat kita berada saat itu jauh dari tempat pembuangan sampah lah, atau sampah yang kita buang hanyalah sebuah kaleng minuman kecil lah, tak berarti apa-apa walaupun saat itu kita buang sekalipun, dan banyak alasan lain.
Tapi tahukah kalian ? Jika satu orang saja pola berpikirnya seperti itu, bagaimana jika beratus-ratus orang yang lain  ? Satu orang membuang satu sampah, sepuluh orang dengan membuang sepuluh sampah, coba bayangkan jika yang datang ke pantai itu beratus-ratus, bahkan beribu-ribu orang, yang semuanya berpikiran sempit seperti itu, bahwa jika membuang sampah sembarangan sekali saja, tidak akan mencemari lingkungan. Sedangkan kita sudah mengetahui sendiri jika sampah-sampah plastik, kaleng dan semacamnya adalah jenis-jenis sampah yang tidak bisa didaur ulang.
Sekedar informasi, Indonesia menjadi urutan pertama sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia, setelah Tiongkok. Dimana pada tahun 2015 saja, Indonesia telah menyumbang sampah plastik seberat 187,2 ton. Sedangkan volume sampah plastik yang disumbang Tiongkok seberat 262,9 ton. Disusul oleh negara-negara asia tenggara yang lain seperti Filipina, Vietnam dan Srilanka. (Sumber national geographic Indonesia)
Walaupun sampah-sampah plastik tersebut dikategorikan sebagai "tambalan sampah", yaitu sampah-sampah yang mengambang di permukaan laut, namun beberapa peneliti dari Universitas Manchester menemukan ada beberapa sampah plastik yang ternyata mengendap di dasar lautan. Coba bayangkan jika sampah-sampah tersebut tertelan oleh mahluk hidup yang mendiami lautan. Misalnya ikan hiu atau penyu, atau berbagai jenis ikan lainnya. Dan ini memang nyata, ada sebuah kasus ditemukannya ikan paus yang terdampar di lautan, dan tidak berapa lama berselang setelah ditemukannya ikan paus tersebut, dari dalam mulut ikan tersebut memuntahkan berbagai macam sampah, ada kemungkinan ikan paus tersebut mengalami keracunan akibat sampah yang tertelan, lalu kemudian terdampar ke pantai. Atau dalam kasus lain di sejumlah pelestarian penyu, peneliti disana pernah beberapa kali menemukan ada beberapa penyu yang memakan sampah laut ini.
Itu hanya mengenai sampah laut saja, belum lagi pencemaran-pencemaran lainnya. Seperti misalnya pencemaran yang bersumber dari minyak sebagai bahan bakar perahu motor dan kapal-kapal barang, yang tercecer mengenai permukaan air laut. Bukan tidak mungkin, jika minyak ini kemudian terbawa oleh gelombang air dan ombak dan kembali ke sisi daratan, dan mengotori bibir pantai. 
Saya teringat dari film upin-ipin episode laut, dimana upin-ipin dan teman-temannya berimajinasi sebagai ikan-ikan penghuni lautan. Dimana dalam salah satu adegan, ekhsan dan fizi tidak dapat menempati rumah mereka kembali karena terkena tumpahan minyak dan sampah-sampah yang berasal dari daratan. Dan mereka pun nyaris terkena tumpahan minyak tersebut, jika saja tidak diselamatkan oleh izzad, si ikan hiu. Ceritanya memang khas untuk anak-anak, tapi ada pesan moral didalamnya, betapa pencemaran-pencemaran di laut yang manusia lakukan berdampak besar terhada keselamatan dan kelangsungan hidup penghuni lautan tersebut. Bukan hanya film upin-ipin saja, ada banyak film lain juga yang mempunyai pesan sama, seperti "finding nemo", lalu kemudian "finding dorry", dan masih banyak film-film yang bertema lautan yang mempunyai pesan untuk tidak mengotori laut.
Lebih jauhnya lagi, pencemaran-pencemaran ini juga bisa memicu pemanasan global, sebagai efek adanya rumah kaca, yang mau tidak mau akan berdampak pada perubahan iklim. Seperti yang kita ketahui, dalam siklusnya, sinar matahari yang menyinari bumi, sebagian di pantulkan lagi oleh bumi ke angkasa yang berwujud radiasi infra merah ke luar angkasa dan sebagian lagi akan tersimpan di bumi sebagai akibat menumpuknya gas rumah kaca, diantaranya uap air, karbondioksida, sulfur dioksida dan metana. Yang berfungsi hampir sama dengan efek rumah kaca.
Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh bumi dan seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Karena jika tidak ada efek rumah kaca ini, planet ini akan menjadi dingin. Dengan kata lain, fungsi awal dari rumah kaca ini adalah untuk menghangatkan bumi. Namun, lain halnya jika gas-gas rumah kaca itu menjadi berlebihan, dan efek rumah kaca bisa menjadi pemicu pemanasan global. Maka, terjadilah perubahan iklim yang berdampak pada cuaca ekstrim, angin puting beliung, kekurangan air dan kekeringan, es kutub mencair, banjir dan longsor, serta segala musibah lainnya.
Begitu juga di lautan, karena adanya perubahan iklim ini, menjadikan es kutub mencair dan luas lautan melebihi luas daratan. Ini dikarenakan juga dengan ketinggian air laut yang terus menaik setiap tahunnya, menyebabkan permukaan daratan menjadi sempit. Kita tentu pernah mendengar cerita bahwa orang-orang pesisir atau yang tinggal di pulau-pulau kecil, sangat kesulitan jika air laut pasang, itu berarti pemukiman mereka akan kebanjiran dan bukan tak mungkin jika hal itu terjadi berlarut-larut akan membuat pulau tempat mereka tinggal akan menjadi kecil dan tenggelam, dikarenakan permukaan air laut yang meninggi. Contoh lainnya bisa dirasakan oleh penduduk-penduduk di daerah sekitar pantura, diantaranya Brebes, yang kehilangan pantainya hingga 800 meter selama 30 tahun terakhir, juga Pekalongan 900 meter, dan terakhir Semarang yang mengalami pengurangan luas pantainya hingga 2,3 km.
Perubahan iklim di lautan ini berdasarkan dua kategori, diantaranya ;
Efek La Ninna, yaitu peningkatan suhu air permukaan laut, sebagai imbas dari mencairnya es kutub yang membawa massa permukaan air laut menjadi naik. Jika semua drainase yang ada di daratan sekitar pantai tersebut dikelola dengan baik, maka saat La Ninna ini terjadi, tidak akan menimbulkan genangan-genangan di daratan.
Efek EL Ninno, yaitu naiknya permukaan air laut yang membuat pantai semakin menjorok ke daratan. Ini bisa disebabkan oleh pencemaran-pencemaran yang telah dijelaskan di awal, juga disebabkan oleh aktivitas-aktivitas lain. Misalnya aktivitas industri yang sengaja memilih lokasi di pinggir pantai, dengan alasan untuk memudahkan pembuangan limbah industri. Juga karena dalam aktivitas industri bukan tak mungkin akan terjadi pengeksplorasian air tanah untuk keperluan industri, maka pengerukan air tanah ini menyebabkan air laut masuk kedalam tanah, yang menyebabkan air daratan pun menjadi asin seperti air laut, lebih jauhnya permukaan air laut pun menjadi naik dan terjadilah "rob" ( banjir akibat air laut pasang). Sumber : kbr.prime
Itu adalah sebagian dampak dari perubahan iklim terhadap kondisi lautan saat ini. Untuk sedikit 
mengurangi efek yang lebih buruk lagi, mungkin sekiranya ada beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk menjaga laut kita, misalnya :
Jangan buang sampah sembarangan, baik itu sampah plastik, kaleng, dan semacamnya. Bawa tempat sampah khusus dari rumah jika diperlukan.
Mengurangi aktivitas perahu bermotor, atau dengan menghemat untuk tidak terus menyalakan mesin pada perahu bermotor, karena selama mesin menyala, limbah buangannya akan kembali ke laut.
Menanam mangrove di bibir pantai, sebagai langkah mengantisipasi abrasi pantai.
Menghentikan penggunaan bom ikan, peluruhan potasium dan semacamnya untuk mencari ikan di laut, dan sebagainya.
Kiranya dengan langkah-langkah seperti tersebut saja, bisa sedikit menjaga laut. Apalagi lautan kita kaya akan hasil laut dan ekosistem yang hidup di dalamnya. Seperti diketahui, luas lautan Indonesia mencapai 93 ribu km persegi dengan 17.480 pulau, yang kaya dengan terumbu karang yang indah, mangrove yang mengandung paling banyak karbon, ikan-ikan laut yang berkualitas serta penangkaran penyu yang paling banyak di dunia. Maka, hendaknya kita menjaganya, merawatnya  dan melestarikan kekayaan laut yang ada didalamnya, untuk laut kita yang bersih, untuk laut kita yang kaya. ( sumber : http://www.buleleng.kab.go.id)
Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya bisa dilihat disini, 



Sumber poto :

Opini ini juga pernah diikutsertakan dalam lomba blog perubahan iklim yang diselenggarakan m.kbr.id

Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433