Sebelum Kita Berpisah

        Sumber poto : www.piqsel.com

"Mbok..."
Maya langsung memeluk perempuan yang dipanggilnya mbok Yem itu. Dia mulai sesenggukan di pelukan perempuan tua  itu.
"Kenapa neng ?", tanyanya pada anak majikannya itu.
"Kata mama, mbok ga akan tinggal disini lagi ya..?" Maya tak kuasa menahan airmatanya.
Ini adalah sekian kalinya, dia menangis di pelukan perempuan itu. Perempuan yang telah mengasuh dan membesarkannya, Perempuan yang menyayanginya, mungkin melebihi ibunya sendiri.
Mbok Yem mengelus-ngelus kepala Maya, ada kesedihan di sudut matanya. 
"Mbok sudah tua, neng..., sudah tak pantas untuk jadi pengasuh neng Maya lagi.. apalagi neng Maya sekarang sudah SMA, sudah bisa mengerjakan semuanya sendiri". Tangannya masih terus mengelus-ngelus rambut anak majikannya itu.
Maya mulai melepaskan pelukannya. Kepalanya kini dia sandarkan ke bahu mbok Yem.
"Tapi mbok masih bisa temanin Maya makan,... masih bisa dengerin curhatan Maya,.. atau temenin Maya ke kamar mandi malam-malam,... emang biasanya seperti itu kan, mbok ??" 
"Iya neng... tapi mbok punya keluarga di kampung... mbok sudah berjanji pada anak-anak mbok,.. jika suatu saat mbok akan tinggal dengan mereka, tinggal dengan cucu-cucu mbok juga".
"Tapi,bukan sekarang kan, mbok ?, Maya sekarang masih kelas 11.. nanti saja kalau Maya udah lulus, dan Maya kuliah..mbok boleh pulang kampung... kan Maya udah ada niat mau kost kalau kuliah nanti..." Kata Maya sedikit mengiba.
"Bulan depan anak bungsu mbok menikah.. mbok akan pulang kampung... Dan mbok sudah memutuskan tidak akan kembali lagi kesini..."
"Mbok..." Maya nangis sejadi-jadinya.
"Mbok tegaaaaa... " Maya melepaskan tangan mbok Yem yang sedari tadi mengelus kepalanya. Dia kemudian berlari meninggalkan kamar mbok Yem, meninggalkan mbok Yem yang termenung sendiri.
****
Seharian itu, Maya sengaja tidak menampakkan dirinya di hadapan Mbok Yem. Sengaja dia melakukannya, agar mbok Yem tahu kalau dia benar-benar marah padanya. Begitupun saat esok harinya, seperti biasanya, mbok Yem akan menyiapkan baju seragam sekolahnya, dan meletakkannya di atas tempat tidur. Lalu beralih ke ruang makan, dan menyiapkan sarapan untuknya.
Tanpa sepatah katapun, Maya mau bicara pada mbok Yem.  Bahkan hingga dia berangkat sekolah sekalipun.

*****
Setelah pulang sekolah, Maya tidak langsung ke rumah. Dia sengaja memilih nongkrong dengan kedua temannya, Evi dan Sarah. Mereka bersenda gurau dan tertawa bersama. Baru menjelang sore, kedua temannya mengajak Maya pulang. Tapi, Maya menolak... Dia masih tidak mau bertemu dengan mbok Yem.. Dia masih kesal dengannya... Namun, hal itu malah membuat temannya curiga. Mereka tahu, Maya adalah gadis rumahan. Dia tak akan pernah keluar rumah jika memang tak perlu, apalagi jika sampai menolak pulang seperti hari ini...
"May..kenapa kamu gak mau pulang ? Memangnya kamu sedang marahan lagi dengan mama kamu ya ?" Tanya Evi.
"Nggak juga.. aku cuman lagi malas pulang za... Vi, boleh yaaa aku main ke rumah kamu sekarang.. plisssss !!!!" Tutur Maya pada sahabatnya itu.
"Boleh za May,.. tapi nanti bagaimana kalau mama aku tanya, gak biasanya kamu main ke rumahku jam-jam segini... Ini sudah jam 5 sore, May ?" Jawab temannya itu.
"Iyaaa May,.. memangnya ada apa sih May ? Gak biasanya kamu seperti ini ?" Tanya Sarah.
"Ga pa-pa,..aku cuman lagi kesal sama mbok Yem za,.. lagi malas ketemu dia". Jawab Maya enteng.
"Memangnya Mbok Yem kenapa ?" Lanjut Sarah.
Maya mulai menceritakan masalahnya, dari mulai mbok Yem mau pulang kampung, sampai berencana untuk tidak kembali ke rumahnya.
"Trus masalahnya kenapa, May ? Dia kan sudah tua, sudah waktunya dia istirahat, menikmati masa tuanya bersama keluarganya di kampung" ,kata Evi.
"Iyaaa.. tapi dia sudah melanggar komitmen kami sebelumnya.. Rencananya, kalau aku nanti kuliah, dia boleh pulang kampung..tidak seperti ini.. jadi kesannya seperti buru-buru." Jawab Maya ketus.
"Lagian kamu egois sih.. dimana-mana yang namanya pengasuh itu, cuman sampai anak masuk SD za,.. nakh kamu,.. sudah umur segini, masih selalu bergantung sama mbok Yem.. mungkin dia lelah.." Tambah Sarah, sambil mengangkat kedua tangannya.
"Benarkah seperti itu ?" Maya balik bertanya pada Sarah.
"Mungkin saja.." Jawab Sarah sekenanya.
"Sudahlah, jangan dengar kata Sarah..", kata Evi menimpali, setelah melihat Maya termenung dengan kata-kata Sarah barusan.
"Kalau kamu sayang sama mbok Yem, biarkan dia pergi.. kalau nanti kamu kangen sama dia, kan kamu bisa pergi ke kampungnya, bisa kan ?" Kata Evi sedikit memberi solusi.
"Tapi kampungnya jauh.. di Wonosobo",jawab Maya.
" Kan ada video call, May.. gak mungkin juga kan internet belum nyampe sana". Tambah Evi lagi.
"Mendingan sekarang, kamu buktikan pada mbok Yem, bahwa kamu sekarang udah bisa mandiri, gak harus selalu bergantung padanya... buat dia seneng,.. pokoknya nikmati kebersamaan kalian dulu dech.. " kata Evi dengan sedikit berapi-api.
Maya hanya manggut-manggut mendengar pernyataan sahabatnya itu.
Hari itu, sebelum pulang ke rumah, dia menyempatkan pergi ke mesin ATM, dia melihat saldo tabungannya.. "cukuplah.." pikirnya. Dia menarik beberapa uang rupiah dari dalam mesin ATM, dan berjalan ke tempat angkot biasa mangkal. Menjelang magrib, dia baru sampai rumah.
Di depan pintu, tampak mbok Yem sudah menunggunya dengan cemas.
"Neng Maya darimana saja ? Kenapa jam segini baru pulang ?" Tanyanya pada Maya.
"Dari rumah teman mbok, ngerjain tugas sekolah dulu". Jawab Maya berbohong.
Maya melangkah ke ruang tengah, mbok Yem mengikutinya. 
" Mbok...besok mbok mau kemana ?" Tanya Maya sambil membalikkan badannya ke arah mbok Yem.
"Gak kemana-mana, neng.. cuman ke pasar za.." jawab mbok Yem keheranan.
"Aku ikut yaaa,... besok kan aku libur sekolah.." kata Maya lagi.
"Boleh saja, neng.. tapi kenapa tiba-tiba neng mau ikut ke pasar ?" Mbok Yem balik bertanya.
"Sudahlah, mbok gak usah nanya-nanya lagi,.. pokoknya besok aku ikut ke pasar..titik.." jawab Maya lagi.
Keesokan harinya, mereka pergi ke pasar bersama. Menyempatkan waktu kebersamaan mereka yang tinggal beberapa minggu lagi.  Menyempatkan untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan bersama. Tampak rona wajah mbok Yem sedikit bahagia.
Sepulang dari pasar, Maya menyodorkan sebuah kotak kecil pada mbok Yem.
"Apa ini ?" Tanya mbok Yem sedikit bingung.
"Buka saja.." kata Maya.
Mbok Yem mulai membuka kotak kecil, yang terbungkus kertas kado. Sebuah kotak merah terlihat, pelan-pelan mbok Yem membuka kotak itu. Dengan sedikit bergetar, mbok Yem menarik sesuatu dari dalam kotak. Sebuah kalung emas.
"Neng..." mbok Yem memeluk Maya dengan tersedu-sedu.
"Itu buat mbok.. Biar mbok gak akan lupa pada Maya", tambah Maya.
"Gak mungkin mbok lupa, neng.." jawab mbok Yem sambil terus menangis sesenggukan.
Maya menghapus airmata yang jatuh di sudut matanya, sambil berkata pada mbok Yem.
" Mbok, selama di Jakarta ini, ada nggak tempat yang ingin mbok kunjungi sebelum pulang kampung ?" Tanya Maya sambil berusaha untuk tidak ikut menangis.
Mbok Yem hanya menggeleng.
"Mbok bilang saja, nanti Maya ajak mbok kesana". Tambah Maya lagi.
"Mbok sudah lama tidak pergi ke Monas,neng.. terakhir kali saat mengantar neng Maya waktu SD, sepuluh tahun yang lalu", jawab mbok Yem.
"Nanti kita kesana yaa, bi.." jawab Maya lagi, sambil tangannya terus memeluk mbok Yem,..
Malam itu mereka larut dalam kebersamaan,.. Kebersamaaan yang mungkin tak akan pernah mereka nikmati lagi. Kebersamaan mereka yang terakhir, sebelum mereka berpisah dan menjalani kisah masing-masing. Tapi, kisah mereka tak akan berhenti disini. Maya berjanji, suatu hari dia akan menjenguk mbok Yem di kampung, walau hanya sekedar untuk melepas rindu bersama.
___tamat____







Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam lomba cerpen yang diselenggarakan oleh laditrikarya.cerpen@gmail.com

Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433