Energi Terbarukan, Solusi melestarikan Barang Tambang Fosil

 




Secara geologis, Indonesia terletak diantara 2 pegunungan besar, yaitu pegunungan sirkum Mediterania dan pegunungan sirkum Pasifik, diapit oleh 3 lempengan besar yaitu lempeng Australia, lempengan Eurasia, serta lempengan Pasifik, dan juga terletak antara 3 dangkalan, meliputi dangkalan Sahul, dangkalan Sunda, juga dangkalan pertengahan Australia-Asiatis.

Karena diapit oleh 2 pegunungan besar ini pula, menjadikan wilayah Indonesia terdiri dari banyaknya gunung-gunung berapi yang masih aktif. Memang terkesan riskan, mengingat potensi bencana alam serta terjadinya letusan gunung berapi menjadi sangat besar.

Namun ada keuntungan lain dengan letak geologis tersebut. Diantaranya, sumber daya alam yang ada di Indonesia meliputi batu-batuan geologi, bahan tambang, gas bumi, batubara serta minyak bumi yang tersedia dan bisa dimanfaatkan sepenuhnya, baik untuk kepentingan dalam negeri maupun untuk kebutuhan ekspor.

Contohnya adalah batubara, gas bumi serta minyak bumi yang bisa dijadikan sebagai bahan bakar. Tiga sumber daya alam ini dikategorikan sebagai bahan bakar fosil, yang digunakan sebagian besar untuk BBM ( Bahan Bakar Minyak ).

Untuk kebutuhan dalam negeri, BBM digunakan untuk transportasi, industri, keperluan rumah tangga, bahkan komersial, dan selebihnya digunakan untuk ekspor. Lebih jelasnya, bisa kita paparkan satu demi satu,

  • Minyak Bumi.

Di Indonesia sendiri, proses eksplorasi minyak bumi dilakukan melalui pengeboran sumur ( sumur discovery) serta dilakukan pada " deep water area ".

Sebagai sumber daya alam, minyak bumi termasuk industri yang paling tua, dengan rentang waktu hampir 100 tahun. Dengan cadangan minyak bumi yang tersebar luas di seluruh Indonesia, menjadikan eksplorasi penambangan mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Bahkan baru-baru ini, pemerintah mengusulkan untuk membangun lembaga penyalur BBM di seluruh desa yang ada di Indonesia. Setidaknya di 75 ribu desa di tanah air, terdapat SPBU, baik itu berukuran kecil, sedang maupun besar.

Jumlah persebarannya bisa dilihat dari gambar dibawah ini,

Sumber : pusat data informasi energi esdm

  • Batubara.

Berbeda dengan minyak bumi, batubara digunakan hampir 80 % untuk pembangkit listrik. Dengan harga yang lebih murah, menjadikan pertambangan batubara lebih banyak digunakan untuk keperluan domestik. Ini juga didukung oleh peran pemerintah yang menstabilkan segala macam kegiatan produksi batubara.

Di Indonesia sendiri, batubara hampir bisa ditemukan di semua wilayah. Menurut Pusat Data dan Teknologi Informasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, di tahun 2015 saja, jumlah total batubara adalah sebesar  161 milyar ton serta  total cadangan sebesar 31,35 milyar ton.Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dari gambar berikut,

Saat ini, pemerintah telah membangun fasilitas transportasi batubara sebanyak 767.000 DWT di tahun 2013, bahkan direncanakan untuk tahun 2021, sebesar 5,3 juta DWT sesuai dengan kebutuhan batubara untuk keperluan domestik yang terus meningkat, terutama untuk digunakan sebagai pembangkit listrik.

  • Gas bumi.

Seperti juga dengan minyak bumi dan batubara, gas bumi pun banyak ditemukan di bumi Indonesia ini. Pengangkutan gas bumi ke konsumen selama ini dilakukan melalui pipa gas bumi, yang terdiri dari pipa transmisi dan pipa distribusi.

Ekspor gas bumi Indonesia telah merambah ke negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Jepang, Korea, Tiongkok serta Taiwan. Cadangan gas bumi pada tahun 2014 lalu terlihat melalui gambar berikut,

Itu adalah 3 contoh bahan bakar fosil yang terdapat di bumi Indonesia. Walaupun total keseluruhan barang tambang tersebut masih bisa dikatakan cukup banyak, namun dalam  kegiatan penambangannya tetap harus berpegang pada aturan-aturan yang berlaku.

 Ada ketentuan-ketentuan yang mengatur berapa seharusnya jumlah barang tambang serta mineral yang tetap harus ada di dalam perut bumi sebagai cadangan. Mengingat barang tambang ini bersifat sementara, yang lambat laun akan habis dan terkikis, juga untuk mencegah suhu panas bumi.


Gambar diatas menjelaskan seberapa banyak jumlah barang tambang dalam prosentase yang harus tetap ada di perut bumi sebagai cadangan, dihitung dari total keseluruhan.

Walaupun sudah dilakukan penghematan serta menstabilkan kegiatan produksi pertambangan, dengan menyisakan cadangan bahan tambang dan mineral, tetap saja di masa yang akan datang keseluruhan barang tambang tersebut akan habis, dan itu tidak bisa dipungkiri.

Lalu bagaimana solusinya ? 

Hal yang bisa diterapkan adalah mencari sumber energi yang lain yang bisa dijadikan alternatif. Contoh konkret adalah dengan adanya sumber Energi terbarukan ( EBT ). Pengertian EBT adalah energi yang berasal dari energi yang berkelanjutan, bisa berupa tenaga surya, tenaga air, tenaga angin, proses biologi hingga panas bumi.

Ada beberapa negara yang telah mengadopsi cara ini untuk kelangsungan energi mereka, seperti misalnya Islandia, Norwegia hingga Uruguay. Cara ini selain dianggap mampu menggantikan peran bahan bakar fosil, juga dikenal ramah lingkungan sehingga memperkecil kemungkinan pemanasan global akibat dari adanya efek rumah kaca.

Di Indonesia sendiri, Energi terbarukan ini sudah mulai dilakukan di beberapa proyek pembangunan, diantaranya :

  • Pembangkit listrik tenaga surya.

Proyek ini sudah mulai dikembangkan di daerah-daerah terpencil di tanah air, yang sulit dijangkau oleh jaringan listrik PLN. Ada beberapa cara dalam pelaksanaanya, yaitu dengan menggunakan micro grid maupun tabung listrik ( talis ). Untuk talis ini, pemerintah berencana untuk menyediakan sekitar 52 ribu talis untuk diberikan kepada setiap rumah tangga di 306 desa tertinggal.

  • Pengembangan bahan bakar berbasis green fuel, yakni bahan bakar yang berasal dari sawit. 
  • Pemanfaatan panas bumi. 

Proyek ini sudah dilakukan di Kamojang, kabupaten Garut, Jawa Barat serta di Solok, Sukabumi, Jawa Barat.

  • Pemanfaatan sampah, misal kotoran sapi menjadi bio gas.

Selain dari Energi Terbarukan yang telah dimanfaatkan, ada beberapa EBT yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan, namun belum seluruhnya dioptomalkan, diantaranya, tenaga angin serta arus gelombang laut serta energi panas laut.

Jika semua itu telah berhasil dilakukan, maka ada kemungkinan bisa menambah pasokan energi listrik. Karena sebagaimana diketahui bersama, masyarakat modern menggantungkan hidupnya sebagian besar terhadap pasokan listrik. Bisa dibayangkan jika kita hanya bergantung kepada bahan bakar fosil saja, saat bahan bakar fosil habis, bagaimana nasib penduduk bumi ?

Sedangkan di tahun 2020 saja, total pelanggan yang menerima tagihan listrik berjumlah 24,16 juta jiwa untuk pelanggan R-1/450 VA, serta 7,72 juta jiwa untuk pelanggan R-1/900 VA. Untuk saya pribadi, sebenarnya energi terbarukan ini bukanlah sesuatu yang asing. Mengingat pekerjaan om saya yang bekerja di PT LEN (  Lembaga ElektronikaTeknikal Nasional ), perusahaan BUMN yang salah satu proyeknya adalah mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai sumber energi terbarukan.

Bahkan dari mulai saya kecil, om saya sudah memperkenalkan lampu tenaga surya, yang bisa dicharge selama 8 jam sebelum digunakan, dan untuk kami yang tinggal di kampung, alat itu termasuk efektif, mengingat saat itu masih sering terjadi pemadaman listrik, sementara untuk menggunakan diesel hanyalah untuk orang-orang kaya saja.

Belum lagi, saat ada proyek pembangunan listrik tenaga surya ke daerah-daerah pedalaman hingga daerah terluar dan terpencil di Indonesia, om juga sering mengajak saudara-saudara kami yang lain untuk ikut serta. Seperti misalnya di Kepulauan Bangka, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Barat.

Maka jadilah, mereka hidup berbulan-bulan disana, dengan fasilitas yang bisa dibilang minim, bahkan jaringan internet serta telepon selular pun susah diakses, mengingat daerah yang mereka tinggali saat itu belum tersentuh pembangunan secara merata.

Energi terbarukan berbasis tenaga surya ini juga tidak terlepas dari kehidupan kami, terutama bagi om saya. Bahkan, jika kami menyempatkan berkunjung ke rumahnya, kami sering menemukan barang-barang berbasis EBT tenaga surya ini. Misalnya, water heater dan beberapa kompor tenaga surya sebagai alat eksperimen. Untuk yang terakhir, memang belum dianggap berhasil, mengingat yang saya lihat kompor tersebut banyak teronggok di gudang.. 😂😂

Itu hanya sebagian contoh EBT yang sering kita lihat di kehidupan kita sehari-hari. Termasuk juga dengan rencana pemerintah untuk mengembangkan mobil berbahan bakar tenaga surya di masa yang akan datang. Ini patut didukung, mengingat semakin hari, semakin banyak polusi udara yang dihasilkan oleh kendaraan berbahan bakar fosil ini. Setidaknya untuk mengurangi pencemaran udara.

Langkah yang bisa diambil pemerintah adalah membantu serta menyokong anak-anak muda Indonesia untuk bereksperimen dalam pengembangan energi terbarukan, baik itu EBT yang berasal dari tenaga surya, tenaga air, proses biologi, hingga sampah sekalipun.

Sokongan ini bisa berupa pemberian modal kerja, memfasilitasi untuk mendapatkan sponsor, menyediakan sarana prasana hingga pemberian beasiswa untuk mengikuti pelatihan mengenai energi terbarukan ini.

Langkah-langkah ini diharapkan bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak mengandalkan barang tambang serta bahan bakar fosil saja, tapi juga bisa menjadi negara pelopor dalam penerapan energi terbarukan, sejajar dengan negara-negara lain yang telah lebih dulu melakukan hal yang sama. 

Bukan untuk mengucilkan peran bahan bakar fosil dan barang tambang, namun untuk melestarikan semua barang tambang dan mineral yang ada di Indonesia, yang merupakan salah satu dari semua kekayaan alam geologi yang dimiliki Indonesia. Sehingga terciptakan sumber daya alam yang berkelanjutan.

______________________



Sumber data dan gambar : pusat data informasi teknologi Kementrian Sumber Daya Alam dan Mineral.



Artikel ini diikutlombakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Https://www.esdm.go.id

Http://bit.ly/karyajurnalistikesdm


Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433