Home sweet Home, dan tsunami Palu 2018


Poster film pendek home sweet home, dengan latar reruntuhan bekas tsunami Palu 2018


Sebuah film pendek yang menceritakan tentang situasi di kota Palu, sesaat setelah tsunami menerjang kawasan tersebut pada tahun 2018 lalu. Film yang disutradarai oleh Muhammad Ifdhal ini berkisah tentang kehidupan keseharian Pak Tahid Abdullah ( 40 th ) beserta putrinya, Farah  yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Saat tsunami menerjang kawasan pemukimannya, pak Tahid harus kehilangan istrinya dan kini dia harus merawat putrinya seorang diri. Bukan hanya itu saja, dia pun harus kehilangan rumah tempat tinggalnya dan terpaksa harus tinggal di huntara ( hunian sementara ).
Kondisi huntara ini memprihatinkan, dengan dibangun dengan bahan seadanya, berdinding triplek serta GRC, juga atap seng yang membuat kondisi rumah menjadi sangat panas serta tidak nyaman. Apalagi dengan kipas angin yang rusak yang dimilikinya, membuat dia dan putrinya merasa tak betah berlama-lama disitu.
Setiap hari Pak Tahid mengais puing-puing rumahnya yang kini telah rata dengan tanah, berharap ada sisa-sisa barang miliknya yang masih bisa dipakai, walaupun dia menyadari  dia tak akan mungkin menemukan apa yang dia cari. 
Sedangkan putrinya ikut bersamanya, seraya duduk di sofa bekas yang tersisa diantara reruntuhan. Sesekali putrinya itu tertidur disana dengan memeluk sebuah boneka beruang kesayangannya.
Sebenarnya Pak Tahid tahu bahwa yang dilakukannya adalah hal yang sia-sia. Namun itu dilakukannya semata-mata karena dia tak punya kegiatan lain di pengungsian. Setelah tsunami menerjang, otomatis dia kehilangan pekerjaannya. Dan kini dia hanya menunggu janji pemerintah untuk membayar ganti rugi atas kerusakan rumahnya.
Dalam perjanjiannya, setiap kepala keluarga akan mendapatkan ganti rugi berupa uang tunai sebesar 50 juta rupiah, tergantung seberapa parah kerusakannya. Namun ternyata, kebijakan itu berubah, dan setiap kepala keluarga hanya akan mendapat ganti rugi berupa bahan bangunan seharga 50 juta rupiah.
Kontan saja, kebijakan ini membuyarkan harapan Pak Tahid. Apalagi ketika  Kasim, petugas pendataan ganti rugi yang sering datang kepadanya mengatakan bahwa pemerintah akan meninjau lokasi baru yang akan dijadikan lokasi rumah barunya. 
Persoalan demi persoalan datang silih berganti. Penonton dibuat hanyut dengan kondisi sebuah pengungsian dan huntara dengan kondisi riil. Sang Sutradara seolah ingin menunjukkan apa sebenarnya yang terjadi di sebuah hunian sementara.
Jika masalah kesulitan mendapatkan air bersih sudah merupakan hal yang biasa di tempat pengungsian. Film pendek yang berdurasi sekitar 15-20 menit ini juga memperlihatkan bahwa penghuni di huntara ini juga ternyata mempunyai batas waktu untuk ditinggali. 
Layaknya seorang penyewa rumah yang belum ada kemampuan membayar, para pengungsi ini juga diharuskan meninggalkan tempat itu jika izin tinggal mereka habis. Di akhir cerita, kita akan melihat cuplikan berita mengenai tsunami Palu serta para pengungsi yang tinggal di huntara.
Seolah-olah sutradara ingin membuktikan bahwa cerita ini adalah fakta, dan tidak mengada-ada. Film pendek yang juga mendapat penghargaan sebagai film terbaik ACFF 2019 ( Anti Coruption Film Festival 2019 ) ini memang layak untuk ditonton, apalagi untuk para pencinta film produksi dalam negeri. Selain mengangkat tema keseharian juga menyuguhkan cuplikan dan gambar sederhana, yang tidak berbelit-belit namun mudah dipahami.






Film pendek ini diputarkan di tvri pada tanggal 13 Agustus 2020, yang bekerjasama dengan Https://www.kemdikbud.go.id
Sumber poto : Https://www.google.com

Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433