Setitik


Setitik 
Laki-laki yang bersawo matang itu bernama Nurdin. Ustadz Nurdin begitu orang kampung memanggilnya. Perawakannya sedang, tidak tinggi juga tidak pendek. Umurnya menginjak 28 tahun ini. Ini tahun kelima, dia tinggal di desa itu...salah satu desa terpencil di sudut kota sumedang. Banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa dia tinggal disitu. Dia bukan orang asli sunda. Orang tuanya campuran betawi dan sunda banten. Jika ada yang berpikiran, mungkin dia tinggal disitu, karena dia menikah dengan gadis pribumi disana...tidak juga, sampai sekarang dia masih dalam status lajang,alias belum menikah.
"Nasib... Nasib yang membawaku ke sini.. juga Takdir Allohu Robbi..." selalu dia mengeluarkan jawaban itu, apabila ada yang bertanya kenapa dia mau tinggal di desa terpencil seperti itu. Perkenalannya dengan desa itu, berawal dari program kuliah kerja nyata yang menempatkannya disana, saat itu dia kuliah di salah satu perguruan tinggi di bandung
Saat itu, demua mahasiswa diwajibkan untuk melebur dengan masyarakat setempat, menjadi bagian dalam pembangunan desa. Begitupun dengannya, dia ambil bagian dalam kegiatan desa, kepemudaan hingga kemakmuran masjid. Dimulai dari keprihatinannya, bahwa di desa itu hanya ada 1 orang ustadz, mama haji begitu panggilannya. Beliau merangkap sebagai imam masjid, marbot masjid, dewan penasihat desa dalam bidang keagamaan, dan juga ketua rw. Beliau juga mengajar ngaji anak-anak, memimpin majlis taklim ibu-ibu disana, bahkan menjadi penggiat pengajian bapak-bapak juga. Bukan apa-apa, disana masih kesulitan untuk mencari seorang ustadz. Beliau pernah mengeluhkan padanya dan rekan-rekan mahasiswanya tentang kekhawatiran beliau apabila suatu saat Alloh swt memanggilnya, sedangkan beliau belum ada pengganti disana.
"Saya tidak tahu umurku sampai kapan, tapi semoga Alloh swt memberikan seorang pengganti tempatku disini sebelum Dia memanggiku", begitu ucapnya waktu itu.
Kata-kata itu pula yang membuat seorang Nurdin tergerak hatinya. Pertama dia menawarkan diri untuk membantu mengajar anak-anak mengaji, lalu kemudian dia memberanikan diri untuk sesekali adzan di mesjid. Sampai akhirnya, mama haji menyuruhnya untuk memimpin sholat berjamaah, sesuatu yang di luar dugaan. Tapi sepertinya mama haji tahu potensi yang ada pada diri anak muda itu. Beliau sedikit mendorong bukan memaksakan kehendaknya, membimbing tanpa menggurui. Sehingga sedikit demi sedikit kepercayaan Nurdin mulai tumbuh. Bukankah itu yang seharusnya dilakukan kepada anak muda seperti Nurdin. Yang sedikit tidak mau diatur, tidak mau disalahkan walaupun mereka salah.
Mama haji selalu mengajaknya dalam setiap pertemuan keagamaan, mengenalkannya pada setiap orang-orang berpengaruh di desanya. Hingga lambat laun, dia mulai belajar memberikan tausiyah,mula-mula di dalam majlis taklim ibu-ibu, kemudian pengajian bapak-bapak. Untuk tausiyah, dia memang pernah belajar saat mesantren dulu di salah satu pesantren di Tasikmalaya.. Muhadoroh, begitu nama pelajarannya, yang biasanya diselenggarakan pada setiap sabtu malam. Namun itu dulu, dan ini berbeda situasinya. Kalau dulu dia pidato dan tausiyah didepan teman-temannya. Sedangkan kali ini, di depan banyak orang yang kebanyakan usianya jauh di atasnya. Mula-mula dia hanya menganggapnya sebagai tugas kuliah yang harus dia kerjakan dalam KKN, tapi lambat laun dia merasa itu suatu keharusan. Bukankah itu pula yang dia ingat dari perkataan gurunya di pesantren bahwa " sebaik-baiknya ilmu adalah yang diamalkan ", seperti yang diucapkan Malik bin Dinar dalam buku nya, Hiyatul Auliya, bahwa :
" Barang siapa yang mencari ilmu (agama) untuk diamalkan, Allah swt akan terus memberikan taufik padanya. Sedangkan, barang siapa yang mencari ilmu bukan untuk diamalkan, maka ilmu itu hanya sebagai kebanggaan ( kesombongan ) ", dikutip dari kitab Hiyatul Auliya, 2 : 378.
Juga HR Bukhori dalam salah satu hadist nya mengatakan, " sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ". Begitu yang dia pegang sampai saat ini. 3 bulan tinggal disana, selama KKN itu memberikan kesan yang lebih padanya. Membukakan mata batinnya yang seolah-olah mencoba dia tutupi. " Apakah ini jalanku ? " batinnya.
Setelah masa KKN berakhir, tak membuatnya selesai untuk mengenal tempat itu. Komunikasinya dengan mama haji tak pernah putus, beliau selalu mengajaknya untuk kembali kesana. Dan sesekali jika dia punya waktu luang dan tak ada tugas kuliah, dia menyempatkan untuk datang kesana. Begitu selalu, hingga tiba masa nya dia lulus kuliah, dan dia belum mendapat pekerjaan. Sempat dia untuk kembali ke cengkareng, tempat orang tuanya tinggal. Tapi dia adalah tipe orang yang terbiasa jauh dari rumah, semenjak 13 tahun dia sudah mesantren, jauh dari keluarga. Bahkan saat kuliah pun dia habiskan bukan di kota tempat kelahirannya. Dia hanya mengunjungi keluarga nya bila libur sekolah/lebaran saja.
Dan akhirnya, disinilah dia... tinggal di sebuah desa di sudut kota Sumedang, sebagai seorang ustadz Nurdin. Selain sebagai seorang ustadz, dia pun merangkap sebagai seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar disana, sebagai guru komputer. Sengaja dia melamar disana, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.Dan kebetulan pula, sekolah itu sedang kekurangan guru bantu.
Mama haji sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Selama ini, Beliau merasa bangga dengan sosok Nurdin yang sederhana dan pekerja keras. Namun sebagai orang tua, dia merasa khawatir dengan dirinya yang masih lajang sampai seusia ini.
" Tok.. Tok... Tok... assalamualaikum.. "
Terdengar suara perempuan di ambang pintu.
" Waalaikum salam.. sebentar.. "
Nurdin bergegas membuka pintu. Terlihat seorang perempuan membawa rantang.
" oh, Halimah.. ada apa ? "
" ini dari mamah, a... " sambil mengangkat rantang ke arahnya dengan tatapan setengah tertunduk malu.
" Terima kasih.. " jawabnya sambil meraih rantang yang Halimah bawa.
" Saya pergi dulu a,..Assalamualaikum ".
" Waalaikum salam ". Jawabnya singkat.
Halimah adalah putri bungsu mama haji, yang Beliau kenalkan padanya... harap-harap mungkin bisa ada kecocokkan diantara mereka.
Mereka pernah taaruf, sesuai permintaan mama haji. Tapi tidak berlangsung lama.. masih ada sesuatu yang mengganjal hati Nurdin tentang hubungan ini. Bukan,... bukan karena Halimah tak cantik. Dia lebih cantik dari yang pernah dibayangkan setiap laki-laki. Banyak pemuda desa yang tertarik padanya.
Nurdin pun tidak menampik bahwa dia respek padanya, segan dan menghormatinya. Namun baginya, pernikahan tidak hanya sebatas itu. Dia tidak mau karena hubungannya itu menimbulkan kesan di masyarakat bahwa dia disana karena Halimah, atau dia menikah nanti dengan Halimah karena Mama Haji. Dia tidak mau kesan itu tumbuh di masyarakat karena dirinya. Bukankah dia selalu tanamkan dalam hatinya " kalau belum mampu memberi manfaat, paling tidak jangan mendatangkan mudharat,.. kalau belum mampu membahagiakan, paling tidak jangan menyusahkan,.. kalau belum mampu memuji, jangan mencela... " seperti yang teucap dari Yahya ibnu Muadz, seorang sufi yang mengajar di asia tengah.
Sepertinya Halimah dan keluarganya mengerti tentang hal ini, dengan sikap diamnya  Nurdin mungkin sebagai jawaban tentang semuanya. Nurdin hanya ingin menganggap Halimah sebagai adiknya, seperti dia menganggap mama Haji sebagai ayahnya sendiri.
Biarlah dia menyelesaikan tugasnya disini sampai tuntas. Tugasnya untuk menyampaikan isi-isi  alquran dan teladan-teladan rasulullah saw yang dia ketahui, setitik ilmu yang dia dapatkan selama dia mesantren dulu.
Sebagaimana ayat alquran surat al-Anbiya ayat 107 :
" Dan tiadalah kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam ". ( al-anbiya 27 : 107 ).
Sampai kapan ?? Sampai dia tak sanggup lagi dan Tuhan azza wajalla memanggilnya.
Tamat

Cerita ini pernah diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh

 

Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433