The Writer

Sumber poto : Https://www.google.com


Kirana mulai mengotak-atik laptopnya. Sudah berapa kali dia menggerakkan jarinya di keyboard untuk menulis, tapi seketika itu pula, jarinya mulai menekan tuts "del" untuk menghapus semua yang tadi dia tulis. 
" Benar-benar tidak ada inspirasi sama sekali ", batinnya.
Dia bingung harus mulai darimana, sedangkan deadline pengumpulan artikelnya tinggal beberapa jam lagi. Apalagi atasan tempat dia bekerja sekarang terkenal sangat disiplin waktu. Setiap ada email masuk, selain untuk memberikan tema artikel untuk hari itu, dia akan menyisipkan tanggal dan pukul berapa artikel itu harus telah sampai di meja kantornya.
Walaupun Kirana adalah seorang content writer paruh waktu, dan hanya mengerjakan pekerjaannya dari rumah dan tidak terikat waktu, tapi dia juga adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak, yang masih butuh bimbingannya. Biasanya dia akan menulis jika pekerjaan rumahnya telah selesai.
" Arrrrghhhh... " teriaknya sembari meremas-remas kepalanya.
Dia mengambil gelas kopi di sisi kiri tangannya. Ini adalah tegukan terakhir, dia tidak punya nyali untuk minum kopi lebih dari satu gelas perhari, lagipula dia bukan cofeeholic, kebiasaan begadangnyalah yang membuatnya harus terbiasa menyeruput kopi, itung-itung sebagai moodbooster lah, pikirnya.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.39 wib. Sudah terlalu larut, dia menoleh ke arah Arga, suaminya yang tertidur pulas di ranjang. " Damai sekali... " bisiknya. Dia ingin menyusulnya ke tempat tidur, namun apa daya satu artikel lagi belum dia selesaikan hari itu.
*****
" Maaaa... bangun maaa.. ", Kirana tersentak kaget begitu mendengar suaminya menggoyang-goyangkan badannya. Dia tersadar bahwa semalam  dirinya ketiduran di meja kerjanya. 
" Jam berapa ini, pa ? ", tanyanya pada Arga.
" Jam setengah 6, ." Jawab Arga.
" Maap, ya pa... mama ketiduran disini.. " tambahnya sambil sedikit menggigit bibir bawahnya, tanda menyesal. Kirana tahu, jika dia sampai tertidur dekat laptopnya, berarti suaminya akan berpikir, kalau dia benar-benar lelah. Sedangkan dia benar-benar ingin meyakinkan pada suaminya kalau dia bisa menjalani perannya sekaligus, bekerja dan mengurus anak sendiri, tanpa campur tangan pengasuh sedikitpun. Begitu komitmennya dulu sebelum dia menerima pekerjaannya ini.
" Tunggu sebentar pa.. mama mau kirim email dulu, baru mama siapin sarapan ". Katanya sembari tangannya mulai memencet keyboard laptopnya kembali.
Suaminya hanya mengangguk.
" Papa mau mandi dulu". Katanya sambil melangkah ke kamar mandi.
Kirana tak menghiraukan ucapan suaminya, perhatiannya tertuju pada layar monitor di depannya.
Pukul 12 teng, semua pekerjaan rumah telah Kirana selesaikan. Dari mulai menyiapkan sarapan, menjemur pakaian, mencuci piring, memandikan anaknya yang paling kecil, bersih-bersih rumah hingga menyiapkan makan siang. Pinggangnya kini terasa mau copot. Dia sandarkan badannya di sofa, sambil memperhatikan ketiga anaknya bermain di lantai, sesekali terdengar teriakan mereka berebut mainan. Selalu seperti itu, tapi Kirana tak pernah menghiraukannya, kalaupun ada yang menangis, nanti juga berhenti sendiri, begitu pikirnya.
Terlihat suaminya masih mengoperasikan laptopnya di meja kecil di teras dekat dapur. Sengaja mereka mendesain dapurnya di luar ruang utama. Sebenarnya itu adalah halaman kecil di belakang rumah, tapi mereka membaginya menjadi ruang multifungsi. Sebagian halaman mereka jadikan dapur, sebagian lagi taman kecil yang dilengkapi rumput sintetis, yang bisa digunakan sebagai tempat menjemur pakaian juga,  atapnya berjenis "skylight", sehingga sinar matahari bisa masuk ke dalam, namun tidak akan rembes jika hujan turun, namun jika tengah hari sudah pasti akan kepanasan jika kebetulan dia masih berada di dapur, karena atap berjenis "skylight" memang menyerap panas. Tepat di depan pintu masuk ruang tengah dijadikan sebuah teras kecil yang cukup untuk 1 meja bulat dan 2 kursi. Disitulah biasanya suaminya bekerja selama pandemi coronna ini, mengikuti anjuran pemerintah untuk "Work From Home".
" Pekerjaannya udah beres maaaa.. ? " Tampak suaminya menyembulkan kepalanya dari balik pintu teras dapur.
" Sudah,,paaa. ." jawab Kirana.
" Makan yuk ? " Tambahnya lagi.
O iya, Kirana baru ingat kalau ini sudah waktunya makan siang.
Kirana beranjak dari sofa, dan mulai mempersiapkan makan siang.
****
Jam setengah tiga sore Kirana mulai menyalakan laptopnya. Kali ini dia sengaja membawa laptopnya ke teras belakang rumah. Satu meja dengan suaminya. Jam segini memang waktu yang tepat untuknya untuk memulai bekerja, karena pada jam-jam itulah anak-anaknya tidur siang. Setidaknya dia bisa punya sedikit waktu luang untuk mengecek email ataupun merevisi artikel yang tadi pagi sudah dia selesaikan. Lagipula jika bekerja bareng suami di meja yang sama, bisa sedikit meluangkan waktu bersama, saling sharing tentang pekerjaan masing-masing, ataupun sekedar ngobrol dan curhat tentang anak-anak, sambil tetap perhatian mereka tertuju pada laptop masing-masing.
" Sudah kuduga,.. " katanya membuka percakapan.
" Sudah kuduga apanya, maaa ? " Tanya suaminya.
" Aku dapat SP, pa.. " jawabnya lagi.
" SP ? Karena apa ? " Tanya suaminya, seraya mengangkat kepalanya dan menatapnya.
" Tadi pagi aku belum sempat menyelesaikan satu artikel lagi, pa.." jawab Kirana dengan tertunduk lesu.
Ini adalah SP yang kedua untuknya,  sebelumnya dia pernah mendapatkannya dengan alasan yang sama, yaitu tak dapat menyelesaikan artikel sesuai target. Sebagai content writer, dia memang dituntut untuk membuat artikel dengan jumlah 5-8 artikel perhari, sesuai dengan kontrak yang disepakati. Dengan tema yang ditentukan oleh editor perusahaan. Biasanya dia bisa melakukannya dengan mulus, tak ada kendala. Kecuali jika anak-anak mulai rewel dan mendadak manja, seperti hari kemarin.
Suaminya menarik kursi tempatnya duduk dan mendekatkannya dengan kursi Kirana. Dia membelai bahu Kirana. Dia bingung harus bicara apa. Istrinya saat itu sedang merasa sedih, jika sekali saja dia salah bicara, akibatnya bisa fatal, batinnya. Dengan hati-hati sekali dia mulai bicara,
" Jika memang dapat SP, memangnya kenapa maa..? " Tanyanya kemudian. Dia tahu itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh. Tapi, dia bingung harus bagaimana untuk menguatkan hati istrinya itu.
Kirana hanya menatapnya, dan suaminya tahu arti sebuah tatapan itu.
" Maksud Papa.. jika hanya pemotongan honor atau gaji, yaa gak pa-pa maa.., gak usah dipikirkan...kecuali kalau dengan SP itu akan berdampak buruk pada karir mama di perusahaan itu". Tambahnya lagi.
Kirana menggeleng.
" Hanya pemotongan honor saja, Pa.. tapi itu bisa berpengaruh pada kredibilitasku di perusahaan itu, Pa..", lanjut Kirana.
" Itu mungkin hanya perasaan mama saja,.. mungkin disana ada banyak yang seperti mama.. bahkan mungkin ada yang lebih buruk dari mama.. yang tak bisa bekerja sesuai target.." Arga seakan punya kekuatan untuk bicara sekarang.
" Yang penting sekarang, mama tetap fokus pada pekerjaan mama.. jika mama rasa bisa, pasti bisa, jika menurut mama, sudah tak sanggup dengan kedua peran sekaligus.. mama bisa berhenti dari pekerjaan mama sekarang,.. tak ada yang meminta mama bekerja kok.. buat Papa, dengan mama mengurus rumah dan anak-anak saja itu sudah cukup". Tambahnya lagi.
Kirana menarik napas panjang... Kalimat terakhir itu yang tak mau dia dengar dari suaminya. Berhenti bekerja.. sudah berapa kali dia meyakinkan suaminya, bahwa menjadi seorang content writer adalah impian terbesarnya. Jika dia sekarang merangkap sebagai ibu rumah tangga dengan tiga anak laki-laki, yaaaa.. itu adalah sebuah tambahan.. sebuah anugerah yang tak semua orang bisa mendapatkannya, pikirnya.  Seorang content writer yang merangkap ibu rumah tangga, atau sebaliknya ibu rumah tangga yang merangkap seorang content writer....
" Aku masih sanggup kok, Pa.. " katanya pada suaminya itu.
Dia melanjutkan pekerjaannya lagi, mulai mencari bahan-bahan untuk artikelnya nanti di internet. Sedangkan suaminya  hanya menatap istrinya itu tanpa banyak kata.
" Benar-benar keras kepala", batinnya.
*****
Arga merebahkan badannya di tempat tidur. Setiap hari benar-benar membosankan, pikirnya. Semenjak pemerintah menerapkan aturan "Stay at Home", otomatis pekerjaannya juga berpindah ke rumah. Awalnya memang membuatnya senang, karena dengan begitu dia bisa bekerja sambil berkumpul dengan istri dan anak-anaknya. Tapi lama kelamaan, rasa jenuh mulai dirasakannya. Apalagi jika harus melakukan hal yang sama setiap harinya. Mungkin itu pula yang dialami istrinya, pikirnya seraya memalingkan wajahnya pada Kirana yang tengah berbaring di sampingnya.
Kirana tersenyum padanya. Walau selelah apapun hari itu, dia akan tersenyum pada suaminya, dan mencoba menutupi semua keletihannya. Tak guna juga jika dia harus terus-terusan mengeluh pada suaminya itu, prinsipnya 
Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam, saat Kirana menyadari Suaminya itu sudah terlelap di sampingnya. Arga memang tak kuat begadang, dia tak akan bisa bertahan untuk tidak tidur diatas jam 11 malam. Tidak seperti dirinya.
Kirana bangun dari tempat tidurnya, menyalakan lampu di meja kerjanya dan mulai menyalakan laptopnya. Malam hari adalah waktu yang efektif baginya untuk bekerja. Setelah membuat segelas susu hangat di dapur, dia kembali ke kamarnya dan mulai melanjutkan membuat artikel. Dia rasa malam itu dia mempunyai energi yang kuat untuk menyelesaikan semua artikelnya, ada banyak ide yang sepertinya sudah tak sabar ingin dia tuangkan dalam setiap artikelnya.
****
Hari itu menjadi hari yang indah bagi Kirana, semua artikel yang dia buat semalam tak ada satupun yang harus direvisi, dan di hari ini juga tanggal dimana dia mendapatkan honor hasil kerjanya. Walaupun ada pemotongan karena SP kemarin, tapi itu tidak membuatnya kecewa, dia tahu konsekuensi apa yang harus dia terima dari kelalaian/ kesalahan yang dia lakukan.
Tapi hari yang baik untuk pekerjaannya, ternyata tak berpengaruh baik juga dengan kehidupannya sebagai ibu rumah tangga. Hari itu, anak-anaknya mulai rewel, anak pertama dan kedua berteriak-teriak berebut mainan dan akhirnya berkelahi, sedangkan anak yang paling kecil tak mau lepas dari gendongan. Walau usianya sudah menginjak hampir 5 tahun, tapi dia masih manja dan terkadang cengeng. Belum lagi suaminya, Arga yang hari itu mendadak ngeyel dan cerewet, membuat kepalanya serasa mau pecah...ingin sekeras-kerasnya dia berteriak.
" Arrrggghhhhh..."
Tapi urung dia lakukan, dia masih bisa mengendalikan emosinya. Dia hanya menarik napas panjang.. lebih panjang dari biasanya.
" Lelah, maa ?" Tanya suaminya saat melihat dia tertidur di sisi tempat tidur anak Arya, anaknya yang paling kecil. Tampak Arham dan Akhsan tertidur pulas di kasur karpet tempat mereka main perang-perangan tadi. Tampak mainan dan seprei serta bantal berserakan dimana-mana. Kirana menggeleng. Dia bangun dan merapikan sprei dan bantal, membereskan semua mainan dan meletakkannya ke tempatnya semula. Sementara Arga menggendong kedua anaknya, satu persatu dan memindahkan mereka ke tempat tidur. Baru kemudian keduanya pergi ke kamar mereka, dan malam itu Kirana tidur dengan pulasnya.

Pagi hari, Kirana kelimpungan sendiri. Lagi-lagi dia melewatkan satu artikel yang seharusnya dia selesaikan tadi malam. Belum lagi pekerjaan rumah yang menumpuk, membuatnya tak bisa fokus, hingga saat memasak sekalipun, pikirannya masih terus terpaut dengan artikelnya yang masih kurang.
" Maaaa.. telor ceplok aku sudah jadi belum ?" Tanya Arham, anaknya yang pertama.
" O iya, bentar sayang.. ", jawabnya sambil memindahkan telor ceplok dari wajan ke piring Arham.
" Telor dadar aku juga mana, maaa ?" Sekarang giliran Akhsan, anaknya yang kedua yang berteriak.
" Belum sayang.. mama sedang bikin nasi goreng dulu, nanti mama bikinin telor dadar kakak Akhsan yaaa.." tambahnya sambil menengok ke arah Akhsan yang sedang cemberut di samping Arham.
Belum lagi si anak bungsunya yang memeluk kedua kakinya dari belakang sambil menyodorkan dot susu. Benar-benar membuatnya semakin panik, tapi tidak dengan Arga suaminya, dia nampak tenang sambil memegang gadget, sesekali dia menyeruput kopi hitam di dekatnya.
" Nikmat sekali hidupmu, Pa.." batinnya.
Seharian  itu, Kirana sibuk di dapur. Dari mulai memasak, mencuci baju hingga beres- beres di rumah. 
" Akhirnya selesai juga,.." pikirnya.
Kirana melangkah ke ruang tengah, berniat untuk sekedar rebahan di sofa. Tapi urung, setelah melihat anak keduanya Akhsan tertidur di sana, dengan posisi telungkup. Tampak kakaknya, Arham masih asyik menulis di meja tulis portable di depan tv. 
" Sedang belajar apa, kak ?" Tanya Kirana. 
Semenjak belajar di rumah, tugas sekolah anak-anak, Suaminya lah yang bertindak sebagai tutor, dia hanya bertugas mengevaluasi hasil akhirnya. Bukannya apa-apa, sebelumnya dia memang bertugas mendampingi dan membimbing mereka belajar, tapi yang ada malah, dia yang tak bisa sabar, dan ujung-ujungnya malah kena protes anak-anaknya. Dibilang terlalu cerewet lah, terlalu galak lah... yang ada malah dia yang stress sendiri.
" Lagi bikin karangan, maaa.." jawab Akhsan sambil terus menulis.
" Papa kemana ?" Tanyanya lagi.
" Tadi adik nangis, lalu papa mengajaknya keluar", jawab Akhsan datar.
Kirana beranjak meninggalkan Aksan, menuju ruang tamu. Tampak pintu depan terbuka. Kirana mengintip dari balik gorden, tampak Arga sedang memangku Arya di ayunan panjang.
" Syukurlah.." batinnya. Setidaknya suaminya mau menggantikannya menjaga Arya, pikirnya.
Dia kembali ke tempat Akhsan semula, tampak Akhsan sedang mengangkat-angkat kertas polio di tangannya, sambil sesekali bergumam.. mungkin sedang membaca ulang tulisannya.
" Karangannya sudah selesai, sayang ?" Tanya Kirana.
" Belum.. maaa,.." jawabnya.
Kirana memperhatikan anak sulungnya itu, persis dirinya waktu kecil dulu. Saat dia di bangku SD, mengarang adalah pelajaran favoritnya, dia masih ingat bagaimana dia selalu menantikan hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, karena saat itu gurunya akan menyuruh semua murid membuat karangan tentang kegiatan selama liburan. Mungkin karena hal itu pula, membuat Kirana menjadi senang menulis, hingga bercita-cita menjadi seorang jurnalis.
Baru setelah SMP, dia mulai belajar membuat puisi dan beberapa cerpen, dan memberanikan diri mengirimnya ke sejumlah tabloid remaja dan koran, walaupun tak pernah menang, setidaknya itu bisa menjadi pengalaman baru baginya. Saat SMA, Kirana mulai beralih menulis artikel ke radio berita luar negeri yang berbahasa indonesia, baik itu VOA, radio Singapura hingga radio Hongkong berbahasa Indonesia, artikelnya berisi cerita-cerita kesehariannya sebagai pelajar. Setelah lulus SMA, barulah dia mencoba mengikuti kompetisi-kompetisi menulis hingga mengikuti pelatihan-pelatihan dan seminar-seminar seputar jurnalistik, hingga akhirnya seorang teman disana menawarkan pekerjaan sebagai seorang content writer seperti saat ini.
" Maaa... coba periksa karanganku, maaa...", teriak Akhsan, membuyarkan lamunan Kirana.
" Oke.. sayangnya mama..." 
Kirana mengambil kertas polio di tangan Akhsan. Dia mulai membaca kalimat demi kalimat yang ditulis Akhsan. Untuk seukuran anak umur 10 tahun bolehlah.., tak ada yang perlu dia koreksi lagi. Dia hanya menggaris bawahi kata-kata yang tidak sesuai EYD saja.
Akhsan bercerita tentang kesehariannya di rumah selama pandemi coronna, dari mulai dia bangun tidur hingga tidur lagi di malam hari. Dia juga bercerita bagaimana dia sering berebut mainan dengan Arham, kakaknya, juga saat dia menjahili Arya, adik bungsunya.
Sesekali Kirana tersenyum, saat Akhsan menuliskan kelakuan Papanya yang kadang pelupa, dimana pada suatu hari papanya lupa menaruh kacamatanya dimana, hingga memarahi dia dan adik-adiknya. Namun ternyata, kacmata yang dia cari masih bertengger di kepala Papanya. 
Kirana membalik kertas polio yang ada di tangannya. Kirana sedikit mengerutkan dahinya. 
" Apa ini..", batinnya.
Akhsan menceritakan bagaimana mamanya begitu cerewet, galak dan suka marah-marah. Tak lupa dia menuliskan betapa mamanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai penulis sehingga kadang lupa mengajak mereka bermain.
Kirana menatap wajah Akhsan, ada rasa sesal di dadanya. Betapa dia tak pernah mrngerti dengan perasaan anak-anaknya. Selama ini dia hanya berpikir, jika dengan memberikan mainan dan menyediakan fasilitas yang diinginkan anak-anaknya adalah sudah cukup bisa membuat anak-anaknya bahagia. Tapi ternyata tidak, yang dibutuhkan anak-anaknya hanyalah kebersamaan dan waktu luang untuk mereka.
Kini Kirana sadar, content writer adalah pekerjaan impiannya sejak dulu, tapi menjadi seorang ibu adalah anugerah terbesar untuknya. Dia sadar, tanpa dukungan keluarga kecilnya,,dia tak mungkin menjadi seperti sekarang ini.
Kirana memeluk anak sulungnya itu, sambil berbisik,
" Maapkan mama ya, sayang... selama ini mama sibuk sendiri hingga melupakan kalian, anak-anak mama sendiri..", ucap Kirana.
" Mama janji, mama akan lebih memberikan waktu pada kalian..", lanjutnya.
Kirana bersyukur, karena akhirnya dia bisa mendapatkan pekerjaan yang diidam-idamkannya selama ini, sebagai content writer, tak perlu kiranya dia mengeluh dengan pekerjaannya tersebut, kini dia harus lebih memfokuskan diri pada tugasnya yang lain, yaitu menjadi seorang ibu bagi Arham? Aksan dan Arya, dan istri dari suaminya Arga, sebuah profesi yang tak pernah mengenal libur, tak mengenal upah kerja, tapi memberikan kepuasan lahir batin.
" Maaa... Lagi pada ngapain ?" Kirana tersentak saat tahu Arga di sampingnya sambil menggendong Arya.
 " Sepertinya Arya ngantuk nih..", lanjut Arga.
Kirana melepaskan pelukannya pada Akhsm, kemudian meraih Arya di pangkuan suaminya.
" Papa pindahin kak Arham yaaa, biar dede sama kak Akhsanikut ke kamar sama mama yuk !" ajaknya pada Akhsan, anak keduanya.
Akhsan mengikutinya dari belakang. Tak lama kemudian, menyusul Arga dengan menggendong Arham.
Di dalam kamar, Kirana mengajak kedua anaknya tersebut mendengarkan cerita yang dia bacakan. Sesuatu hal yang jarang sekali dia lakukan. 
" kenapa mama bacain buku cerita, ini kan masih siang ? " Tanya Akhsan keheranan.
Mungkin maksudnya, biasanya Kirana hanya membacakan cerita jika malam saja, menjelang tidur. Bukan seperti saat ini.
" ga pa pa, sayang.. mumpung mama lagi gak sibuk" jawab Kirana.
" pada suatu hari, di tempat yang jauh, di hutan sana hiduplah seekor monyet dan gajah,... bla.. bla.. bla..."
Kirana melirik kedua buah hatinya yang berbaring disampingnya. Mereka sudah terlelap. Begitu juga dengan anak pertamanya, Arham yang sudah terlebih dulu tertidur. Kirana membolak-balikkan buku cerita yang dia pegang. Dia teringat saat dulu dia mencoba menulis cerita anak-anak yang dia kirimkan ke majalah anak-anak. Walaupun tak pernah ada balasan, apakah ceritanya dimuat atau tidak, tapi setidaknya dia sudah mencoba. Kenapa dia tidak mencoba sekali lagi ? Pertanyaan itu terbesit di benaknya. Ya, kenapa tidak ? Tak ada kata terlambat untuk mencoba, batinnya.
Setelah mencium kening anak-anaknya satu persatu, Kirana meninggalkan mereka yang tengah terlelap, dan bergegas menuju kamarnya. Disana dia tak mendapati suaminya, " mungkin di teras belakang", pikirnya.
Dia pun membawa laptop miliknya dan menyusul suaminya di teras belakang.
" pa.. sepertinya aku akan mulai menulis cerita anak-anak sekarang", katanya setelah mendapati suaminya sedang duduk menatap layar laptop. Arga mengernyitkan dahi.
" kerjaan mama gimana ?" Tanyanya.
" nulis artikel ? gampang pa, itu bisa dilakukan malam hari, setelah kalian tertidur... biasanya juga begitu, kan ?" Jawab Kirana seraya mengambil kursi persis dekat Arga, dan mulai menyalakan laptop miliknya.
" pokoknya, sekarang ini di kepalaku sudah ada inspirasi mau bikin cerita seperti apa, pokoknya berkaitan dengan apa yang disukai anak- anak lah... " lanjutnya lagi.
Arga hanya manggut-manggut saja, Kirana memang terkenal spontan, semangatnya meledak-ledak, dan tak bisa ditebak. Inspirasinya bisa datang dimana saja, kapan saja.. dan Arga tahu betul tentang hal itu.
" kenapa harus cerita anak-anak, maa.. ? Kenapa bukan yang lain ? Nulis novel atau buku misalnya ?" tanya Arga, seolah masih tak yakin dengan niat istrinya itu.
" itu juga, pa.. nulis cerita anak-anak, novel kemudian buku.." jawabnya seraya tersenyum lebar.
" pokoknya aku ingin menulis.. semua hal yang berkaitan dengan dunia tulis menulis akan aku lakukan pa... kalau memungkinkan aku juga ingin belajar lagi,.. ikut seminar-seminar hingga pelatihan-pelatihan.. boleh yaa, pa.. ?" Kirana memasang muka memelas di depan suaminya, berharap mendapatkan simpati dari suaminya itu.
" boleh-boleh saja, asal mama bisa sekaligus jaga rumah sama anak-anak saja". Jawab Arga datar, pandangannya tetap pada monitor. 
" kan sekarang sedang musim daring, pa.. jadi gak usah keluar rumah, tinggal pake aplikasi zoom za," jawab Kirana dengan berapi-api.
" ya.." jawab Arga dengan singkat.
" siiippp.." Jawab Kirana kegirangan.
" sekarang aku mau coba menulis cerita anak-anak dulu, baru kemudian searching pelatihan menulis daring." Jelas Kirana.
" bukan cerita anak-anak sih, tepatnya dongeng". Lanjutnya,
" dongeng ?" Arga makin keheranan.
" iya dongeng.. terinspirasi dari bibi aku di kampung yang suka menceritakan dongeng padaku dulu.. waktu kecil.." 
" ohh..pantes.. " jawab Arga akhirnya.
Kirana tersenyum simpul... dia mulai menulis judul ceritanya pada layar laptop.. Dongeng anak-anak ; ayam dan musang.. judulnya.
Kata demi kata mengalir melalui tulisan, berbagai kalimat yang ada di kepalanya kini berpindah pada naskah cerita yang tertulis di monitor laptopnya. Seolah tak ingin lupa, Kirana terus menggerakkan jari-jari tangannya di atas keyboard, silih berganti menekan tuts-tuts keyboard. Kirana kini yakin, bahwa pekerjaan impiannya bukanlah hanya seorang content writer, tapi lebih dari itu.. pekerjaan impiannya adalah sebagai seorang penulis.. penulis apa saja, baik itu content writer yang  telah lama dia geluti, ataupun  penulis novel, cerita anak-anak, jurnalis bahkan mungkin sebagai blooger... apa pun itu, selama itu berkaitan dengan dunia penulisan, dia akan mencoba melakukannya, tak ada yang tak mungkin... selama ada niat, dan mau belajar, semua pasti terwujud.. itu yang Kirana yakini sampai hari ini.

^^^^^^^

Cerpen ini juga bisa dilihat di Https://www.storial.co/liasukriati

Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433