Taaruf






Malam ini adalah malam yang ditunggu-tunggu Adel. Bagaimana tidak, Fahrul, lelaki yang dikenalnya di Seminar Kampus bulan lalu akan berkunjung ke rumahnya. Dan yang membuatnya bahagia adalah saat Hanifa, sahabatnya mengatakan bahwa Fahrul ingin berniat taaruf dengannya. Jujur, saat pertama kali bertemu, dia sudah mengagumi sosok Fahrul, yang dikenal jenius dan pintar mengaji, dan tentu saja tampan.

Tiba-tiba saja, bel rumah berbunyi. " Mungkin itu Fahrul ", batinnya. Keringat dingin mulai membasahi tubuh serta tangannya. Ini adalah kali pertama dia dikunjungi pria di rumahnya. Bel rumah berbunyi lagi untuk yang kedua kalinya, Adel makin merasa cemas. Sayup-sayup terdengar langkah kaki menuju pintu, dam terdengar suara pintu yang terbuka. Selain dari  itu, dia tak lagi  bisa menangkap suara yang terdengar dari balik pintu kamarnya.

Tok. Tok. Tok.

" Del, ada tamu.. ", ibunya memanggil dirinya seraya mengetok pintu kamar.

" iya, bu.. ", Adel langsung menghampiri cermin besar di sudut kamarnya.

Untuk berapa lama dia mematung disana. Meneliti penampilannya dari atas hingga bawah.. Malam itu dia memakai gamis warna soft pink, senada dengan kerudungnya yang berjuntai hingga pinggang. Dipadukan dengan bros kristal serta aksen renda di sepanjang ujung gamis bagian bawah. Setelah menarik napas panjang, Adel bergegas keluar dari kamarnya, menuju ruang tamu. Menemui Fahrul.

Di ruang tamu, sudah menunggu Fahrul beserta temannya, Imam. Saat itu, Adel merasa layaknya calon  pengantin perempuan yang berjalan menuju tempat akad nikah, dan semua mata tertuju padanya. 

Dengan wajah menunduk dan tentu saja, dengan detak jantung yang berdegup kencang, dia duduk disamping ibunya. Dia tidak tahu berapa lama dia berjalan dari kamarnya hingga ruang tamu itu, yang jelas baginya seperti perjalanan yang berjarak 2 hari, saking lamanya. Walaupun jarak yang sebenarnya hanya beberapa meter saja.

" Baiklah, karena Adel sudah ada disini, maka Abi sekarang mau bertanya pada afwan berdua, ada apa yang membuat kalian datang ke rumah Abi ?. " suara Abi memecah kesunyian.

" ohh iya, begini Abi.. saya Imam... disini saya mewakili Fahrul, sahabat saya yang sudah seperti saudara sendiri. Selain untuk menjalin silaturahmi juga ada satu niat lagi yang ingin kami utarakan pada Abi.. Mudah-mudahan Abi dan keluarga disini berkenan..." Imam berbicara dengan sangat fasih.

" niat apa itu ? " Abi kembali bertanya.

" niat untuk bertaaruf dengan dek Adel... eh, maksudnya sahabat saya ini berniat bertaaruf dengan putri Abi, jika Abi dan keluarga ini berkenan..." lanjut Imam sambil pandangannya mengarah kepada Adel, yang masih tertunduk.

" kalian bertemu dimana ? ", Abi melanjutkan bertanya.

" ohh.. katanya mereka bertemu di sebuah seminar kampus. Kebetulan saya juga ada disana. Setelah 2x pertemuan, Fahrul langsung menemui saya dan mengutarakan niatnya ini... " Imam langsung mendahului Fahrul yang hendak berbicara, mungkin untuk menghindari kesalahan bicara yang bisa saja dilakukan Fahrul, apalagi kan ini di depan calon mertua.. hiiii.. hiii.. hiii.. Adel geli sendiri menyebut itu, tapi Adel sudah merasa yakin dengan itu, terutama yang menyangkut hubungannya dengan Fahrul di masa akan datang.

Untuk selanjutnya, dia tak fokus mendengarkan percakapan mereka yang hadir di ruangan itu. Dia asyik dengan pikiran dan lamunannya sendiri. Dia membayangkan tahapan-tahapan yang akan dia lalui bersama Fahrul sebelum akhirnya mereka berlanjut ke pelaminan.

Dari mulai mengenal keluarga Fahrul sendiri, lamaran lalu kemudian menikah.. aikh, indahnya... Kemudian dia membayangkan saat  dimana Fahrul bersiap akan mengucap akad nikah. Bisa gak yaaa Fahrul mengucap akad nikah dengan satu napas ? Kalau sampai ketiga kali gagal, nanti kan harus diulang lain hari.. ikhhh, jangan sampai begitu dech.. Adel meremas-remas baju gamisnya dengan dua tangannya seraya giginya menggigit sedikit bibir bawahnya.

" Adel.. " suara Abinya membuyarkan lamunannya.

 " oh iyaaa.. " dengan masih merasa terkejut, Adel sedikit mengangkat wajahnya. Terlihat Fahrul dan Imam yang sedang menatap dirinya, disusul dengan Abi dan ibunya. Adel kemudian menundukkan pandangannya kembali.

" bagaimana ? Adel terima ? " Abinya bertanya.

" terima apa, Abi ? " Kelihatan sekali jika selama ini Adel tak fokus.

" terima niat Fahrul untuk bertaaruf denganmu, nak ? " Abinya kembali menegaskan.

Ini nih yang sudah ditunggu-tunggu Adel dari tadi. Ah.. tapi nanti dulu dech, jangan langsung bilang terima.. nanti dikiranya dia yang benar-benar ngebet.. walaupun memang iya sih, tapi tunggu sebentar lagi dech, biar kaya di drakor gitu, biar bikin si cowoknya gak sabar menunggu.. hi.. hi.. hi..

Adel hanya mengangguk, menunjukkan bahwa dia menerima ajakan taaruf dari Fahrul.

" alhamdulillah.. semoga Allah meridhoi segala niat baik kita ini ", Imam menambahkan.

Singkat cerita, malam itu adalah malam terindah untuknya. Dia bisa tidur dengan rasa bahagia, dan bersiap untuk bertemu dengan Fahrul di dalam mimpi.

^^^^^

Setelah sholat subuh, Adel mengaktifkan hp nya. Whatsapp nya langsung berbunyi menandakan ada pesan masuk. " kak Fahrul... ", bisiknya.

"  assalamualaikum, ukhti.. mudah-mudahan saat ini ukhti sudah bangun dan bergegas untuk sholat tahajud... doakan agar kita berjodoh, dan Allah swt meridhoi niat kita berdua, aamiin.. karena apapun yang akan menjadi penghalang, selama Allah menghendaki kita berjodoh, kita pasti akan bersatu.. tapi jika tidak berjodoh, sekuat apapun kita bertahan, tetap akan bersatu..  "

Adel melihat waktu terkirimnya pesan... "  02.35 wib ", gumamnya.

Dia kemudian membalas pesan Fahrul dengan mengetikkan,

" waalaikum salam, kak.. maap saya baru balas pesannya, karena saya selalu mematikan hp bila waktunya istirahat. Insha Allah, saya akan selalu berdoa.. semoga Allah swt selalu menyertai jalan hidup kita berdua, aamiin.. "

Begitu jawaban Adel... untuk beberapa saat dia terpaku menatap layar hpnya, berharap sang pujaan membalas whatsapp nya. Dan benar, pesannya menunjukkan 2 centang biru, yang mengartikan pesannya telah dibaca, dan kini Adel menunggu Fahrul selesai mengetik balasan pesannya.

Hp nya berbunyi lagi,

" tidak apa-apa, ukhti, saya mengerti.. o iya, jam 2 siang nanti apa ukhti jadi untuk ikut bedah buku di kampus nanti ? "

" insha Allah, kak.. saya jadi datang ", balas Adel.

" kalau begitu aku juga akan datang, biar bisa ketemu ukhti disana.." lanjut Fahrul.

" tapi kita masih belum bisa berduaan lho.. " Adel menambahkan.

" iya, aku tahu.. tapi setidaknya aku bisa melihatmu disana.. " lanjut Fahrul, yang kemudian diikuti dengan senyuman sumringah Adel.

^^^^^^^

Waktu hampir menunjukkan pukul 2 siang, dan Adel sudah hadir di aula beberapa menit sebelumnya. Ditemani dengan sahabatnya, Hanifa, siang itu mereka akan mengikuti bedah buku karya teman kampusnya, Rosadi yang berjudul " Senja Memerah di kota Persik ". Tapi bukan itu yang benar-benar dinantikan Adel, melainkan pertemuannya dengan Fahrul nanti.

Beberapa menit sebelum acara dimulai, barulah Adel melihat sosok Fahrul masuk aula kampus. Dengan memakai kemeja biru muda, dia begitu mempesona, membuat hati Adel melayang-layang.

Fahrul yang memang berperawakan tinggi dengan kulit putih dan rambut hitam pekat layaknya bule turki, terlihat begitu berbeda diantara yang lainnya. Berbeda dengan Adel yang memang mempunyai perawakan sedikit berisi, dengan pipi chubby dan kulit berwarna putih bersih. Mereka memang berbeda, apalagi dengan sifat Adel yang supel, dan gampang diajak berteman, sedangkan Fahrul lebih suka menyendiri, cenderung pendiam, serta misterius.

Sejenak Fahrul berdiri di depan deretan kursi, seolah sedang mencari sesuatu. Ingin rasanya Adel melambaikan tangan padanya, sebagai sinyal bahwa orang yang dia cari ada disini. Tapi tidak, Adel mengurungkan niatnya itu.

Selintas Fahrul berpaling ke arahnya, tersenyum lama.. membuat jantung Adel berdegup tak karuan. Adel membalas senyumnya dengan diiringi senggolan tangan Hanifah di sampingnya, serta ucapan " cieeeee... " yang mengarah padanya.

Tapi  itu tak berlangsung lama, suara berisik anak-anak perempuan di belakangnya membuat suasana berubah seketika. Terdengar mereka berbisik-bisik,

" eh, lihat tu Kak Fahrul datang..  cakep banget sih dia.. ", salah satu dari mereka berujar.

 " aku mau dech jadi pacarnya,.. ", yang satu lagi menimpali.

" eits, dia tersenyum kesini.. masha allah, bahagianya hati ini.. ", ucap yang lainnya.

Telinga Adel mulai panas mendengarnya. Seketika itu dia berpaling ke belakang, dan menatap tajam mereka. Ada sekitar 4 perempuan yang ada disana, dan semuanya adalah juniornya di kampus. Dalam hati, Adel berkata, " tau gak, itu cowok punyaku, !! awas yaa.. jangan macem-macem ". Seolah mengerti, mereka langsung terdiam dan menunduk.

^^^^^^

Adel masih kesal dengan kejadian tadi siang. Bibirnya masih cemberut dengan muka yang sengaja dia tekuk. Hingga ibunya merasa heran dengan sikap putrinya itu.

" del, kamu kenapa ? Apa ada masalah dengan Fahrul ? ", tanya ibunya.

" nggak ada apa-apa kok, bu.. " Adel berbohong.

" bener nih ? ", ibunya mulai curiga.

" iyaa, bu.. cuman kesel za dengan teman kuliah ". Jawab Adel sekenanya.

" oh, ya udah,.. kalau gitu kapan Fahrul akan melamar kamu, nak ? Jangan dilama-lamain lho, nanti timbul fitnah ", ucap ibunya.

" gak tau ya, bu.. nanti saya tanyakan. Eh, ini kak Fahrulnya kirim whatsapp.. saya pergi kekamar dulu yaa, bu.. " lanjut Adel sambil berlari menuju kamarnya.

^^^

Di kamar, dia mulai membuka pesan Fahrul.

       " Dalam tidur panjangku, dalam gelap sisi batinku,

         Aku rasakan setitik embun menetes pada urat dahagaku,

         Seperti raga-raga yang kehausan di Padang Masyar,

         Hadirmu bagai secercah hidup di sekujur matiku ".

Aikh, Adel semakin terpesona dengan sosok lelaki itu. Bagaimana tidak, selain mempunyai pribadi romantis, dia juga sangat perhatian. Sepertinya dunia terasa  begitu indah bagi Adel. Hingga beberapa waktu kemudian, Fahrul menjadi sulit dihubungi, dia pun sudah jarang mengirim pesan. Sampai akhirnya, Adel menerima pesan darinya yang berbunyi,

" ukhti, maap jika selama ini aku jarang menghubungimu, dengan segala keterbatasanku sekali lagi aku minta maap... jika seandainya ada seseorang yang lain mengharapkanmu, aku tidak akan menghalangi.. aku mundur.. mungkin kita tidak berjodoh.. "

Seketika dunia Adel hancur, " maksudnya apa ini ? " Adel yakin seyakin-yakinnya bahwa tak pernah ada orang lain selain Fahrul di hatinya. Adel mencoba menjelaskan dalam pesannya. Namun tidak ada balasan. 

Sudah banyak pesan yang dia kirimkan, namun dalam whatsapp nya hanya terlihat centang biru, tak pernah Fahrul balas. Bahkan di kampus sekalipun, Fahrul tak pernah kelihatan batang hidungnya. Adel merasa cemas, dia merasa perlu menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada Fahrul, mungkin selama ini Fahrul berpikir bahwa ada hati lain yang menginginkan Adel. Benarkah ? 

Namun, walaupun hatinya galau, Adel tak sedikitpun memberitahukannya kepada siapapun, bahkan kepada sahabatnya ataupun orangtuanya sekalipun. Adel masih tetap seperti biasa, berusaha untuk selalu ceria di hadapan teman-teman kampusnya, hingga pada suatu hari, Hanifah mendekatinya saat dia tengah duduk sendiri di bangku taman kampus.

" del ? ", tanyanya seraya menatap mata Adel lekat-lekat, seolah tengah mencari tahu apa yang ada di benak sahabatnya itu..

" iya, fah.. " jawab Adel dengan tersenyum.

Hanifah kemudian duduk disamping sahabatnya itu. Dengan menghela napas panjang, dia kembali menatap Adel.

" hubunganmu dengan Fahrul bagaimana ? ", tanya Hanifah ?

" baik,.. memangnya kenapa ? " jawab Adel berbohong.

" benarkah ? " tanya Hanifah tak percaya.

Adel hanya mengangguk, berusaha untuk menutupi semuanya.

" del.. ", lanjut Hanifah.

" Fahrul.. hari ini.. kata Imam.. hari ini.. Fahrul.. " Hanifah terbata-bata untuk menyelesaikan kalimatnya.

" ada apa dengan Fahrul, Fah ? " seketika Adel memegang tangan sahabatnya itu dengan erat, saat nama Fahrul disebut.

" hari ini Fahrul akan melamar.. ", ucapan Hanifah kembali terpotong.

" benarkah ? " seketika wajah Adel merona, ada rasa bahagia di matanya.

" bukan denganmu.. tapi dengan orang lain.. " Hanifah merasa bersalah dengan ucapannya itu, dia tahu ini akan menyakiti hati sahabatnya itu.

" siapa ? ", Seketika wajah Adel berubah pucat. Tangannya masih memegang tangan Hanifah.

" Alya, anak tarbiyah.. " jawab Hanifah.

" ohh.. ", lanjut Adel, dia ingat gadis yang waktu itu bersamanya di forum bedah buku, salah satu dari empat perempuan yang berceloteh tentang Fahrul tepat di belakangnya.

" Sepertinya saat Fahrul bertaaruf denganmu, ternyata dia juga.. " Belum sempat Hanifah selesai bicara, Adel sudah memotong.

" tidak.. Fahrul sudah memutuskan hubungan kami seminggu lalu, jadi mungkin saja dia taaruf dengan gadis itu, setelah kami putus hubungan.. ", entah kenapa Adel masih membela Fahrul, lelaki yang jelas-jelas memutuskan hubungan dengannya secara sepihak.

" kamu yang sabar, ya.. del, ", Hanifah memeluk sahabatnya itu.

" iyaaa.. ", jawab Adel singkat.

Di sudut matanya, ada titik basah yang bersemayam. Ada rasa bimbang yang bertaut didadanya kini, bagaimana dia harus menjelaskan semuanya pada orangtuanya nanti ? Entahlah.


_tamat_



Comments

Popular posts from this blog

Inovasi Perpusnas dalam Pembangunan

Dare to be you with ASUS S14 S433